Jangan Biarkan Bibir Pantai Terkoyak Alat Berat

Opini431 Dilihat
Spread the love

_Opini | Said Marsaoly – Pimpinan Redaksi FaduliNews_

FaduliNews.com _Bibir pantai adalah perbatasan terakhir antara daratan dan laut—sebuah ruang sakral yang mestinya dijaga, bukan dijarah. Apa yang terjadi di Kawasi hari ini, jika benar tanpa izin dan melanggar aturan, bukan sekadar soal tambang pasir. Ini adalah cermin dari abainya kita terhadap hukum, lingkungan, dan masa depan generasi.

banner 336x280

Sebagai insan pers, saya tidak sedang mencari siapa yang salah secara pribadi. Tapi saya ingin mengetuk pintu hati para pengambil kebijakan: Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Selatan dan juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Bukankah tanggung jawab menjaga lingkungan bukan hanya tertulis dalam dokumen AMDAL, tetapi juga tertanam dalam nurani kita sebagai bangsa yang mencintai tanah air?

Undang-undang sudah bicara tegas. UU Minerba menegaskan bahwa setiap bentuk pengambilan sumber daya alam wajib diatur, diawasi, dan diberi sanksi bila menyalahi. Tapi hukum tak cukup tanpa keberanian menegakkannya. Apakah kita akan membiarkan excavator terus mencabik-cabik bibir pantai hingga garis pantai menghilang, rumah penduduk tergerus, dan ekosistem pesisir lumpuh?

Kegiatan yang berpotensi ilegal ini juga menyiratkan hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD), karena tambang yang tidak terdaftar berarti tak memberi kontribusi legal kepada daerah. Lalu untuk siapa pasir itu digali? Untuk siapa keuntungan itu mengalir?

Saya percaya, masih ada nurani yang hidup di dalam institusi pemerintah. Saya percaya, para pejabat bukan hanya bekerja untuk angka dan laporan, tetapi juga untuk sejarah dan tanggung jawab moral. Mari kita jaga pantai, bukan dengan pidato, tapi dengan tindakan tegas dan berkeadilan.

Tutup tambang yang tak berizin. Audit seluruh aktivitas galian. Tindak pelaku tanpa tebang pilih. Dan bukalah ruang edukasi bagi masyarakat agar mereka tahu bahwa alam ini bukan warisan nenek moyang, tapi titipan anak cucu.

Semoga suara kecil ini bisa menggema sampai ke meja dinas dan ruang sidang kementerian. Karena jika hari ini kita diam, maka besok kita sedang mewariskan bencana.

FaduliNews | Ungkap Fakta Bicara Nyata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *