Di Tengah Perang Iran–AS–Israel, Indonesia Harus Tetap Menjadi Rumah Damai bagi Semua

Spread the love

Oleh: iD Marsaoly

 

banner 336x280

Jum’at/06/03/2026_Ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir kembali memanaskan situasi geopolitik dunia. Serangan udara gabungan yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 ke sejumlah fasilitas militer dan strategis di Iran memicu balasan keras dari Teheran. Iran kemudian meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke berbagai wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer dan fasilitas sekutu Amerika di kawasan Teluk.

Konflik ini bukan hanya memicu ketegangan militer, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas sipil. Berdasarkan laporan yang beredar, sekitar 201 orang dilaporkan meninggal dunia dan 747 lainnya luka-luka di Iran akibat serangan tersebut. Beberapa serangan bahkan dilaporkan menghantam wilayah sipil, termasuk sekolah dan fasilitas kesehatan di Teheran.

Selain korban sipil, konflik ini juga memicu perhatian dunia setelah kabar meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan udara yang menarget kompleksnya di Teheran. Pemerintah Iran bahkan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah kabar wafatnya pemimpin yang telah memimpin Iran sejak 1989 tersebut.

Namun di tengah berbagai laporan itu, muncul pertanyaan yang cukup mengemuka di kalangan masyarakat dunia: berapa sebenarnya jumlah korban di Israel akibat serangan balasan Iran?

Rudal Iran dilaporkan menghantam beberapa kawasan di Israel, menyebabkan kerusakan bangunan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Tetapi informasi mengenai jumlah korban jiwa di pihak Israel tidak disampaikan secara rinci seperti yang terjadi di wilayah konflik lain.

Pertanyaan yang sering muncul adalah:
berapa jumlah korban meninggal sebenarnya?
berapa anak-anak yang menjadi korban?
berapa orang dewasa yang tewas?
dan berapa yang masih dirawat di rumah sakit?

Transparansi data korban sipil dalam sebuah konflik sangat penting karena perang tidak hanya menyangkut kekuatan militer, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan. Setiap korban—baik di Iran, Israel, Palestina, maupun negara lainnya—tetaplah manusia yang memiliki keluarga dan kehidupan.

Di tengah memanasnya konflik ini, sebagian umat Islam di Indonesia juga merasa penasaran dengan langkah diplomasi yang diambil Presiden Prabowo Subianto yang mencoba mendorong upaya perdamaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sebagian kalangan menilai langkah tersebut keliru karena Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun menurut pandangan Om Faduli, keputusan tersebut justru mencerminkan tanggung jawab seorang kepala negara yang memimpin bangsa dengan keberagaman.

Indonesia bukan hanya dihuni umat Islam, tetapi juga ada masyarakat yang memeluk agama Kristen, Hindu, Buddha, dan berbagai kepercayaan lainnya. Karena itu seorang pemimpin negara tidak boleh hanya melihat persoalan dunia dari satu sudut pandang agama saja. Negara harus berdiri di atas kepentingan seluruh rakyat.

Jika kebijakan hanya berpijak pada satu kelompok, maka hal itu bisa bertentangan dengan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. Perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dijaga agar bangsa ini tetap aman, damai, dan sejahtera.

Karena itu masyarakat juga diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum tentu benar, terutama yang tersebar di media sosial. Banyak isu yang beredar justru memancing emosi dan memperkeruh hubungan antar umat beragama.

Indonesia tidak boleh terseret dalam konflik ideologi yang memecah belah. Negara ini memiliki jalan sendiri, yaitu hidup berdampingan dalam keberagaman dan menjaga kedamaian bersama.

Sebelum menutup pandangan ini, Om Faduli juga mengajak umat Islam di Indonesia, khususnya di Maluku Utara, untuk mengirimkan doa Al-Fatihah kepada almarhum Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang wafat di tengah konflik yang sedang berlangsung. Doa adalah bentuk empati kemanusiaan kepada siapa pun yang telah meninggal dunia.

Mari kita berdoa agar konflik di Timur Tengah segera berakhir, agar peperangan tidak terus memakan korban jiwa, dan agar dunia kembali menemukan jalan menuju perdamaian.

Karena pada akhirnya, nilai paling tinggi dalam kehidupan bukanlah kemenangan dalam perang, tetapi bagaimana manusia mampu memanusiakan manusia lainnya.

— Om Faduli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *