FaduliNews_juma’at,15/08/2025 Bobo, Halmahera Selatan — Saatnya bicara dengan data, bukan sekadar opini. Rapat terbuka antara PT Karya Tambang Sentosa (KTS) dan masyarakat Desa Bobo baru-baru ini membuktikan bahwa mayoritas warga tidak ingin terjebak dalam narasi kelompok kecil yang berbicara dari luar kampung.
Adonis Nyingawa, tokoh masyarakat Desa Bobo, menjadi saksi bahwa penjelasan langsung dari Direktur PT KTS adalah momen yang memuaskan sekaligus mengubah persepsi warga.
“Kehadiran Pak Direktur luar biasa. Selama ini kami hanya mendengar rumor. Kemarin, semua jelas: administrasi perusahaan tidak ada yang ilegal. Masyarakat bisa memahami dan menerima,” kata Adonis tegas.
Bukan hanya bicara, Adonis membawa fakta: 510 tanda tangan dukungan dikumpulkan dari rumah ke rumah tanpa paksaan. Data ini nyata, jelas, dan diserahkan langsung kepada pemerintah serta perusahaan.
Lalu, siapa yang menolak? Ternyata, hanya segelintir orang yang mengaku “tokoh cendekiawan Bobo” namun tidak tinggal di Bobo. Ironisnya, mereka mengklaim mewakili seluruh warga, padahal faktanya tidak. Saat diminta bukti dukungan, mereka bungkam.
“Mereka membacakan pernyataan, tapi tidak menyerahkan dokumennya. Berbeda dengan kami yang punya data lengkap dan terbuka. Yang menolak itu sedikit sekali, paling 20–25 persen. Yang menerima jelas 75–80 persen,” tegas Adonis.
Masyarakat Bobo kini dihadapkan pada pilihan jelas: ikut membangun bersama PT KTS atau terjebak dalam suara minoritas yang lebih banyak bicara daripada bekerja. Kehadiran PT KTS bukan sekadar investasi, tapi peluang untuk membuka lapangan kerja, memperbaiki infrastruktur, dan menggerakkan ekonomi desa.
“Kami tidak mau masa depan kampung ini diatur oleh orang yang tidak tinggal di sini. Kami menerima PT KTS karena ada dasar, ada bukti, dan ada harapan untuk maju,” tutup Adonis.
Bobo harus bersatu! Mayoritas sudah memilih jalan kemajuan. Saatnya hentikan provokasi kelompok luar yang mengatasnamakan semua orang, padahal hanya membawa kepentingan segelintir pihak. Masa depan Desa Bobo ada di tangan warga yang tinggal, bekerja, dan berjuang di tanah ini.
(Tim/Red)








