Belanda, Brasil dan Argentina Bersatu! Fans Jerman “Diseret” ke Laut Usai Der Panzer Tumbang

Spread the love

Faduli1.com – Euforia Piala Dunia 2026 di Kota Tidore Kepulauan semakin memanas. Kekalahan Timnas Jerman 2-1 dari Ekuador menjadi bahan candaan para suporter di Tidore. Sejak pagi hari, para pendukung Belanda, Brasil, dan Argentina kompak turun ke jalan untuk menjalankan tradisi yang sudah bertahun-tahun mewarnai pesta sepak bola dunia, yakni “menjemput” para pendukung tim yang kalah menuju Dermaga Pelabuhan Rum Balibunga.(Jum’at/26/06/2026)

Aksi itu dipimpin oleh salah seorang pendukung Argentina yang dikenal warga sebagai Pak RT 04, Yunus, atau yang akrab dijuluki Presiden Fans Argentina Tidore Utara. Dengan membawa sebatang bambu kering kecil yang dijadikan “tongkat komando”, ia berdiri di depan barisan sambil mengatur langkah para pendukung Jerman.

banner 336x280

“Rapikan barisan… jalan pelan-pelan menuju dermaga,” serunya yang langsung disambut gelak tawa warga.

Barisan itu terdiri dari anak-anak, ibu-ibu hingga bapak-bapak yang semuanya dikenal sebagai pendukung Jerman. Salah satu titik kumpul berada di kediaman Ibu Tata, yang dikenal sebagai pendukung Jerman, sementara sang suami yang akrab disapa Bos Bilo justru merupakan pendukung fanatik Belanda. Rumah mereka di kawasan RT 05 pun sejak pagi dipenuhi para pendukung Der Panzer yang sudah pasrah menunggu giliran “diantar” ke laut.

Di bawah komando Pak RT Yunus, rombongan bergerak menuju Dermaga Speedboat dan pangkalan motor kayu Rum. Sepanjang perjalanan, masyarakat berdiri di tepi jalan menyaksikan pemandangan unik tersebut. Suara tawa, teriakan, hingga yel-yel antarsuporter membuat suasana pagi di Kelurahan Rum semakin meriah.

Tak hanya warga biasa, para sopir pangkalan dan pengemudi ojek yang diketahui sebagai pendukung Jerman pun tak luput dari sasaran candaan. Mereka ikut diarahkan menuju dermaga bersama rombongan lainnya.

Momen paling mengundang tawa terjadi ketika Ko Aton, salah satu pendukung berat Jerman, baru saja turun dari mobil dengan pakaian yang masih rapi. Belum sempat melangkah jauh, ia langsung “diamankan” oleh rombongan pendukung Belanda, Brasil, dan Argentina.

Dengan penuh canda, Ko Aton digiring menuju bibir dermaga. Sebelum menceburkan diri ke laut, ia hanya sempat menyelamatkan telepon genggam dan dompetnya. Selebihnya, pakaian yang dikenakannya ikut basah setelah ia melompat ke laut, disambut tepuk tangan dan sorak-sorai warga yang memenuhi kawasan pelabuhan.

Meski menjadi sasaran candaan, semangat para pendukung Jerman tidak luntur. Dengan tubuh yang masih basah kuyup, Ko Aton langsung menantang balik para suporter lawan.

 

“Silakan kalian tertawa hari ini. Tapi ingat, Piala Dunia masih panjang. Kalau nanti Belanda, Argentina atau Brasil kalah, kami akan buat lebih sadis dari ini. Jangan ada yang sembunyi,” ucap Ko Aton sambil tersenyum, yang langsung disambut riuh tawa seluruh warga.

Pak RT Yunus pun hanya tersenyum mendengar tantangan tersebut. Menurutnya, tradisi ini bukan untuk mempermalukan siapa pun, melainkan bentuk kebersamaan dan hiburan masyarakat setiap kali Piala Dunia berlangsung.

Di Tidore, rivalitas hanya berlaku selama pertandingan. Setelah peluit panjang berbunyi, semua kembali menjadi sahabat. Tradisi saling meledek, mengantar ke dermaga, hingga terjun ke laut telah menjadi warna tersendiri yang selalu dinanti warga setiap empat tahun sekali, membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang persaudaraan, kebersamaan, dan tawa yang menyatukan masyarakat.

(om Faduli)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *