Faduli1.com | Oleh Om Faduli
Di balik hiruk-pikuk konflik yang sempat mengguncang dua desa di Kecamatan Patani Barat, ada sosok pemimpin yang hadir bukan hanya membawa jabatan, tetapi juga hati. Ia adalah Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, yang oleh banyak warga kini disebut sebagai “pimpinan sejuta umat.”
Jauh sebelum konflik antara Desa Banemo dan Desa Sibenpopo pecah, Bupati Ikram sudah lebih dulu menapaki jalan-jalan desa di wilayah Patani. Ia datang bukan sekadar kunjungan formal, tetapi untuk bersilaturahmi, mendengar langsung suara rakyat, dan memastikan denyut kehidupan masyarakat tetap menjadi prioritas pemerintah.
Kehadirannya di Desa Sibenpopo kala itu menjadi bukti bahwa ia ingin merawat hubungan sosial masyarakat dari akar paling bawah. Beberapa desa lain di Patani juga disambangi, termasuk Desa Kipai, tempat ia bersama Wakil Bupati, Sekda, dan Kadis BPMD meresmikan rumah layak huni bagi keluarga Mustami Odemadi dan Ibu Feri.
Bantuan rumah itu bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol kasih sayang pemerintah kepada rakyat kecil. Tangis haru Ibu Feri saat menerima rumah baru menjelang Lebaran menjadi saksi bagaimana kepemimpinan Ikram menyentuh sisi kemanusiaan.
Namun tak lama berselang, ujian besar datang. Konflik dua desa pecah dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Halteng.
Saat menginjakkan kaki di lokasi bentrokan bersama Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, unsur Forkopimda Provinsi, TNI, Polri, serta jajaran pemerintah daerah, raut wajah Bupati Ikram terlihat berbeda. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihan yang begitu dalam.
Di tengah para tokoh masyarakat, aparat keamanan, dan stakeholder lintas pemerintahan, air mata Bupati Ikram terlihat menetes. Bukan air mata seorang pejabat, tetapi air mata seorang pemimpin yang merasa ikut memikul penderitaan rakyatnya.
“Usai sudah masalah ini. Saya sangat sedih melihat kondisi yang terjadi. Semoga kita semua dapat kembali seperti sediakala, saling menghargai, menjaga persaudaraan, dan hidup dalam kebersamaan serta kedamaian,” ujar Ikram dengan suara bergetar.
Kesedihan itu lahir dari kecintaan seorang pemimpin terhadap tanah Bumi Fagogoru, tanah yang selama ini dikenal menjunjung nilai persaudaraan, gotong royong, dan saling menjaga.
Ikram menyadari bahwa Halteng dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan rasa saling percaya antarwarga. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terutama oleh informasi liar di media sosial yang berpotensi memecah belah persaudaraan.
“Mari kita jaga Halteng, karena ini rumah kita bersama.”
Kalimat sederhana itu menjadi penegas bahwa bagi Ikram, kepemimpinan bukan sekadar memimpin kantor pemerintahan, tetapi menjaga rumah besar bernama Halmahera Tengah.
Sikap empati yang ia tunjukkan di lokasi konflik menjadi gambaran mengapa banyak masyarakat menaruh harapan besar kepadanya. Di saat situasi mencekam, ia hadir bersama TNI, Polri, pemerintah provinsi, tokoh masyarakat, hingga perangkat desa untuk memastikan pemulihan sosial berjalan cepat.
Dari rumah layak huni di Kipai hingga air mata di Banemo dan Sibenpopo, publik melihat satu benang merah yang sama: kepemimpinan yang hadir dengan hati.
Di tengah luka konflik, masyarakat kini berharap sentuhan seorang “pimpinan sejuta umat” mampu mengembalikan senyum, memulihkan trauma warga, dan menyatukan kembali persaudaraan yang sempat retak di tanah Patani Barat.
#FADULIPEDULI








