Oleh :Omfaduli
Di tengah berbagai dinamika politik Kota Tidore Kepulauan, nama Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, kembali menjadi bahan perbincangan. Berbagai isu terus bermunculan dan dikemas dalam beragam narasi. Namun bagi sosok yang akrab disapa “Ayah Erik” oleh masyarakat Kota Tidore (Maluku Utara) itu, gelombang isu seperti ini bukanlah sesuatu yang baru.
Muhammad Sinen bukanlah sosok yang lahir dari keluarga berada atau tumbuh dalam kenyamanan kekuasaan. Putra Maitara-Rum itu mengawali perjalanan hidupnya dari kesederhanaan. Sebelum dikenal sebagai politisi, ia pernah menjadi nahkoda speedboat, nelayan kapal ikan, hingga menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung kehidupan.
Perjalanan panjang itu menempa dirinya menghadapi kerasnya kehidupan. Karena itu, ketika berbagai serangan politik datang silih berganti, ia memilih tersenyum. Baginya, apa yang terjadi hari ini hanyalah pengulangan dari cerita lama yang telah berkali-kali ia hadapi sepanjang karier politiknya.
Sejak menjadi anggota DPRD selama tiga periode, kemudian menjabat Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan selama dua periode, hingga kini dipercaya sebagai wali kota, Muhammad Sinen mengaku telah berkali-kali berhadapan dengan kelompok-kelompok yang terus menebar kebencian dan membangun opini negatif terhadap dirinya.
Setiap momentum politik, isu serupa selalu muncul dengan pola yang hampir sama. Ada pihak-pihak yang terus mencari celah untuk menjatuhkan citra dirinya melalui berbagai narasi yang dibangun tanpa konfirmasi dan tanpa menghadirkan ruang yang berimbang.
Padahal dalam praktik jurnalistik yang sehat, terdapat aturan yang jelas. Kode Etik Jurnalistik dan pedoman Dewan Pers menegaskan bahwa setiap pihak yang diberitakan memiliki hak untuk memberikan penjelasan, klarifikasi, maupun tanggapan terhadap informasi yang ditujukan kepadanya. Prinsip keberimbangan dan verifikasi menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya jurnalistik yang profesional.
Menurut sejumlah pengamat, fenomena seperti ini bukan hal baru dalam dunia politik daerah. Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang diduga sengaja memainkan isu demi kepentingan tertentu, termasuk mencari ruang negosiasi dan keuntungan melalui berbagai cara.
Namun bagi Muhammad Sinen, semua itu bukan lagi sesuatu yang mengganggu fokus kerjanya. Ia lebih memilih berkonsentrasi pada amanah masyarakat yang telah mempercayakan kepemimpinan Kota Tidore Kepulauan kepadanya.
“Ini lucu juga kalau melihat mereka. Cara menjatuhkannya masih sama seperti dulu. Lewat berita tanpa konfirmasi. Padahal aturan Dewan Pers sudah jelas, setiap orang yang diberitakan juga memiliki hak untuk memberikan penjelasan,” begitu kira-kira pandangan yang sering disampaikan orang-orang dekatnya saat menanggapi berbagai isu yang berkembang.
Bagi sebagian masyarakat, perjalanan hidup Muhammad Sinen menjadi bukti bahwa dirinya bukan orang baru dalam menghadapi tekanan. Dari seorang anak kampung di Maitara yang hidup sederhana, menjadi nelayan dan nahkoda speedboat, lalu meniti karier politik hingga dipercaya sebagai anggota DPRD tiga periode, Wakil Wali Kota dua periode, dan kini Wali Kota Tidore Kepulauan, perjalanan tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat.
Karena itulah, ketika berbagai isu kembali dimainkan, Ayah Erik memilih tetap berjalan. Sebab baginya, badai politik akan selalu datang dan pergi, sementara pengabdian kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama.







