Negara Jangan Tutup Mata – Satu Keluarga di Soa Sangaji Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

Spread the love

Oleh: Om Faduli

FaduliNews_Di Desa Soa Sangaji, Kecamatan Obi Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, ada satu keluarga yang hidupnya jauh dari kata layak. Saya melihat sendiri, melangkahkan kaki melewati lantai rumah yang ditutupi batu-batu kerikil, melihat dinding papan yang sudah lapuk dimakan usia, dan atap seng yang berlubang, membiarkan hujan jatuh ke dalam rumah tanpa permisi. Di tempat inilah delapan anak dipaksa tumbuh—tanpa jaminan masa depan, tanpa kepastian makan, dan tanpa bantuan yang seharusnya mereka terima dari negara.

banner 336x280

Kepala keluarga, La Hairudin, berdiri di depan saya dengan tatapan yang kosong. Bukan karena tidak ingin melihat, tetapi karena ia memang tak lagi mampu melihat. Gangguan penglihatan yang ia alami kini membuatnya hampir buta. Mata yang dulu digunakan untuk bekerja keras menafkahi keluarga, kini hanya bisa dipakai untuk menatap samar wajah anak-anaknya.

Bagaimana mungkin seorang ayah bekerja jika dunia di sekelilingnya mulai hilang dari pandangan?

Istrinya, Ibu Ani, menahan air mata saat menceritakan bahwa mereka sudah tiga tahun tidak lagi menerima PKH. Tiga tahun, di tengah kondisi hidup yang seperti ini, tanpa bantuan yang menjadi hak mereka sebagai warga negara yang tidak mampu. “Katanya PKH kami tidak aktif,” begitu ungkapnya pelan.

Yang lebih menyedihkan, bukan hanya keluarga ini yang kehilangan haknya. Warga lain di pesisir Obi Barat juga mengeluhkan hal yang sama: bantuan PKH hilang begitu saja, tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa tanggung jawab.

Saya mencatat nama-nama anak mereka, satu per satu,Budiman,Sukirman,Lasni La Hajirun,Virmanto,Dirvan,Astika,
Cantika dan satu anak bungsu yang belum disebutkan namanya—yang masih balita, yang mungkin belum mengerti apa itu kesusahan, tetapi merasakannya setiap hari melalui nasi yang semakin tipis dan atap yang tak mampu melindungi.

Saya bertanya dalam hati,dimana negara ketika rakyat kecil seperti ini sedang jatuh?

Negara tidak boleh hanya hadir dalam pidato, baliho, atau janji politik. Negara harus hadir di rumah-rumah kecil seperti ini, yang bahkan lantainya saja bukan lantai melainkan tumpukan batu yang menyiksa telapak kaki anak-anak yang tak berdosa.

Karenanya, melalui tulisan ini, saya Om Faduli menyerukan dengan tegas dan penuh harap,Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, mohon turun tangan,Pemerintah Provinsi Maluku Utara, mohon hadir di Soa Sangaji,tolong lihat sendiri kondisi keluarga ini.

Tolong kirimkan bantuan pangan darurat dan tolong aktifkan kembali PKH yang menjadi hak mereka.

Tolong bangunkan rumah layak huni yang bisa melindungi delapan anak ini,tolong periksa kesehatan mata La Hairudin, sebelum semuanya terlambat.

Sebab jika negara hadir, minimal ada harapan.Tapi jika negara diam, kebutaan itu bukan hanya milik seorang ayah melainkan milik kita semua.

Anak-anak ini tidak boleh tumbuh dalam gelap,Mereka butuh cahaya dan cahaya itu harus datang dari pemerintah yang peduli.

Om Faduli sudah turun ke langsung
Kini saatnya pemerintah turun membantu.

(Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed