FaduliNews – Kontestasi politik Tahun 2024 di Kota Tidore Kepulauan telah berakhir, namun gema kisahnya masih terasa hingga kini.
Kemenangan Muhammad Sinen dan Ahmad Laiman yang dijargonkan dengan MASI AMAN,kini berikan tamparan keras untuk pendukung SAMADA,Masih Aman berikan bukti politik yang luar biasa bukan sekadar hasil kampanye singkat, melainkan buah dari perjalanan panjang, dan konsistensi seorang tokoh yang bernama Muhammad Sinen, pria asal Maitara Rum ini selalu dekat dengan masyarakat.
Sementara itu, kekalahan kubu Samada (Samsul–Adam) menjadi cermin bahwa kekuatan politik tidak hanya ditentukan oleh dukungan partai besar atau logistik melimpah, melainkan juga oleh komitmen, soliditas, dan kepercayaan publik terhadap seorang tokoh.
Ayah Erik: Dari DPRD ke Simbol Rakyat
Muhammad Sinen bukan figur baru di panggung politik Tidore. Ia melewati tiga periode sebagai anggota DPRD, kemudian dipercaya sebagai Wakil Wali Kota Tidore dua periode, hingga kini tampil sebagai figur sentral dalam kepemimpinan daerah.
Kedekatannya dengan masyarakat, kesederhanaan sikap, dan konsistensi membangun komunikasi politik membuatnya dicintai rakyat. Ia tidak hanya berbicara dalam kampanye, tetapi hadir dalam keseharian warga. Inilah yang menjadi modal utamanya, sekaligus pembeda dengan banyak figur politik lain termasuk SAM ADA.
Muhammad Sinen dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap kaum miskin, berkat kepeduliannya, ia kemudian dinobatkan sebagai Pemimpin semua golongan pada kontestasi politik 2024, dan kini didaulat oleh Rakyat sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan periode 2024-2029.
Samada : Strategi Kuat, Partai Besar, tapi Tak Solid
Tidak bisa dipungkiri, di awal pertarungan, Samada disebut-sebut sebagai lawan sepadan. Mereka didukung partai besar: Gerindra, PAN, Demokrat, NasDem, PPP, dan sejumlah partai lainnya. Dari segi koalisi, ini seolah menjadi jaminan kekuatan.
Namun, dukungan besar tidak selalu berujung pada kemenangan. Fakta di lapangan menunjukkan, menjelang akhir masa kampanye, sejumlah ketua partai yang mestinya menjadi motor pendukung, justru tidak aktif turun mendampingi pasangan ini. Entah karena faktor internal atau dinamika lain, dukungan itu melemah di detik-detik terakhir.
Janji Palsu dan Hilangnya Kepercayaan Terhadap Samsul Rizal.
Informasi yang beredar saat ini menyebutkan bahwa di internal pasangan Samada, muncul kecenderungan yang lebih memusatkan perhatian pada sosok Adam Dano ketimbang Samsul. Alasannya sederhana: Adam dinilai punya modal finansial lebih kuat dan fakta lapangan menunjukkan adam dano sangat dekat dengan pendukungnya sampai saat ini. Namun samsul sudah tidak lagi di Tidore dan sudah kembali ke jakarta.
Beberapa relawan mengaku, dukungan operasional sehari-hari, termasuk kebutuhan media dan logistik lapangan, lebih sering datang dari Adam Dano. Sementara Samsul, yang kerap mengkampanyekan soal finansial, hanya sebatas surga telinga.
selain itu, ada cerita tentang janji pekerjaan di sebuah perusahaan di kabupaten Halmahera tenga yang disampaikan Samsul, kala berkampanye di Mare Kofo, namun hingga kini tidak pernah terbukti.
“Nomornya pun sekarang sudah tidak aktif,” ungkap salah satu pendukung Samada di Pulau Mare, dengan nada kecewa.
Lebih jauh, beredar pula informasi adanya sisa hutang nasi kotak ratusan juta yang sempat firal pasca kampanye yang belum diselesaikan, hingga isu keretakan rumah tangga. Meski masih simpang siur, namun rangkaian kabar itu telah memperburuk citra Samsul, dan membuat pendukungnya menelan pil pahit atas janji palsu seorang calon Pemimpin.
Sikap seorang Calon Wali Kota seperti Samsul, yang terkesan manis dalam ucapan dan semua itu tidak terbukti satupun,berbanding terbalik dengan sosok Ayah Erik. Figur Ayah Erik dipandang lebih bisa dipegang kata-katanya, meski ada gempuran politik yang kerap menyudutkannya, namun rakyat tak terpancing dan tetap memilihnya sebagai pemimpin di Kota Tidore Kepulauan.
Kemenangan MASI AMAN, menegaskan bahwa Muhammad Sinen adalah figur politik paling kuat di Tidore Kepulauan. Dari rekam jejaknya, publik menilai bahwa pada 2029 mendatang, hampir tidak ada figur yang berani menantangnya.
Inilah esensi politik kepercayaan: ketika rakyat memilih bukan karena uang atau didukung oleh banyak Partai, tetapi karena keyakinan bahwa pemimpin mampu hadir bersama mereka.
Pertanyaan besar muncul: siapa yang berani menantang Ayah Erik di 2029.?
Pelajaran Politik untuk Tidore
Janji tanpa realisasi akan melahirkan kekalahan, dan meninggalkan citra buruk bagi pemimpin. Dukungan Partai besar tanpa Solidaritas akan runtuh di tengah jalan. Kedekatan pemimpin dengan rakyat tetap menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan.
Pilkada kali ini menjadi saksi bahwa Ayah Erik menang bukan karena partai, bukan karena uang, melainkan karena politik kepercayaan, dan Visi Misi yang terukur untuk mewujudkan Tidore Aman, Nyaman dan Ramah.
Sementara, Samada tumbang karena janji yang tak tuntas, sehingga berubah menjadi beban politik yang menyedihkan,semua harapan pupus dijalan.**








