FaduliNews_Halmahera Selatan – Dalam diam, ia berjalan setiap pagi. Menyusuri pasir pantai yang dingin dan basah, melintasi sungai tanpa jembatan di kala Itu Hanya berbekal semangat dan doa, Bapa Amos Hulahi (55), guru honor dari Desa Lalubi, Kecamatan Gane Timur, mengabdikan dirinya selama 23 tahun (2002–2025) untuk mendidik anak-anak di kampung pelosok yang nyaris terlupakan.
Ia bukan pejabat, bukan orang kaya, bahkan gajinya pun sering kali tak menentu. Tapi hatinya, terlalu besar untuk menyerah.
23 Tahun mengabdi
Selama 23 tahun pertama, dari 2002 hingga 2025, Bapa Amos tidak pernah mengeluh meski harus berjalan kaki sejauh lima kilometer setiap hari ke sekolah. Ia tidak punya kendaraan. Ia melintasi sungai, bahkan saat air pasang dan hujan deras mengguyur, demi satu tujuan : mencerdaskan anak-anak negeri.
Gaji honornya kadang hanya cukup untuk membeli beras satu minggu. Bahkan pernah, ber bulan-bulan lamanya ia tidak digaji. Tapi tidak sekali pun ia absen mengajar.
> “Waktu itu, kalau lapar saya cuma makan pisang hasil tanam di kebun,dan roti buatan istri. Tapi saya tahu, kalau saya tidak datang, anak-anak tidak belajar,” katanya lirih.
Kegagalan dan Harapan yang Tak Pernah Padam Tahun 2016, ia mengikuti seleksi K2 namun gagal. Dunia seolah runtuh, tapi Bapa Amos tak menyerah. Ia tetap mengajar. Tetap berdiri di depan kelas, dengan kemeja lusuh dan sepatu yang mulai rusak. Tahun berganti, dan akhirnya, di 2025, ia lulus seleksi P3K. Tapi ironis, sejak pengumuman kelulusan, ia masih terus mengabdi membantu Kepala Desa.
Kini, ia dan keluarganya hanya bertahan dari jualan roti istrinya, Ibu Hana Nagara, seorang perempuan tabah asal Desa Tobaru, yang menopang ekonomi keluarga dengan tangan sendiri.
Dua Anak, Dua Impian yang Sukses Diraih dengan Air Mata
Bapa Amos bukan hanya guru di sekolah, tapi juga ayah yang luar biasa di rumah. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap menyekolahkan kedua anaknya. Anak pertamanya, Ekklesia Hulahi, telah menyelesaikan pendidikan Magister di UMY Yogyakarta pada 2023 dan Anak keduanya, Nokiskar Samuel Hulahi, akan lulus dari UMMU Ternate tahun ini, dan tengah mempersiapkan kuliah S2 di Jakarta.
> “Kalau saya tidak bisa wariskan harta, biar ilmu jadi bekal mereka,” ujar Bapa Amos dengan suara bergetar.
Di Ujung Pengabdian, Ia Kini Menjadi Sekretaris Desa
Masyarakat Lalubi tahu siapa Bapa Amos. Mereka tahu bahwa kejujuran dan kesederhanaannya bukan untuk pencitraan, tapi karena itulah dirinya. Tahun ini, ia dipercaya menjadi Sekretaris Desa Lalubi sebuah jabatan yang datang bukan karena kekuasaan, tetapi karena penghormatan dari rakyat kecil yang tahu arti ketulusan.
Catatan Redaksi :
Kisah Bapa Amos Hulahi adalah kisah tentang mereka yang tak pernah masuk berita utama, tapi sesungguhnya menjadi tiang negeri ini. Ia tidak pernah menuntut balas jasa. Ia hanya ingin anak-anaknya sekolah, dan murid-muridnya berhasil.
_Di tengah dunia yang sering kali abai pada pengabdian tanpa sorotan, semoga kisah ini mengingatkan kita : bahwa di sudut-sudut negeri, ada orang seperti Bapa Amos, yang berjalan jauh dan lapar, hanya agar anak-anak bisa membaca dan menulis._
#TangisPendidikan#PejuangTanpaPamrih#GuruHonor#FaduliNews #UngkapFaktaBicaraNyata
.









