Oleh : Rizal Abd Rahman
Yang Terhormat Bupati,
Di tanah ini, di antara laut Jailolo dan Ternate, ada cinta yang tumbuh pelan-pelan. Cinta kami pada dermaga kecil, pada suara mesin speed boat yang tak pernah bosan menyapa fajar, dan pada orang-orang sederhana yang memilih setia—meski kadang tak dianggap.
Kami menulis bukan untuk mengeluh, bukan pula untuk menolak. Kami hanya ingin menyampaikan satu hal yang mungkin tak terdengar di ruang-ruang berpendingin, tapi begitu nyaring di jantung laut kami: jangan tinggalkan yang lebih dulu berlayar.
Kapal cepat memang gagah, nyaman, dan cepat. Kami paham, modernisasi adalah bagian dari langkah maju. Tapi sebelum itu semua, ada speed boat yang setia mengantar kami menjemput kehidupan—tanpa pamrih, tanpa sorotan. Mereka berlayar bukan karena mesin besar, tapi karena hati yang besar.
Kami tahu, laut ini tidak selalu tenang. Ada moku-moku Ma Hèra, ada gelombang yang datang tiba-tiba, dan dalam situasi itu, kami pun butuh perlindungan. Tapi harapan kami sederhana, Pak Bupati: jangan biarkan speed boat menjadi korban dari kemajuan yang tidak merangkul.
Mereka bukan pesaing, mereka adalah bagian dari perjalanan panjang masyarakat Jailolo–Ternate. Jika hari ini mereka mulai tersisih, maka esok lusa, yang hilang bukan sekadar mata pencaharian—tapi bagian dari jati diri kita sebagai orang laut.
Kami percaya Bupati adalah pemimpin yang tak sekadar membaca data, tapi juga mendengar detak hati rakyatnya. Maka surat cinta ini, kami titipkan bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dirasakan.
Rangkul kapal cepat, tapi peluk juga speed boat. Biar laut ini adil bagi semua. Biar tidak ada yang merasa asing di rumahnya sendiri.
Terima kasih telah membaca cinta kami.
Dengan hormat dan harap,
Rizal Abd Rahman
Putra Pesisir, Penumpang Setia Jalur Laut Jailolo–Ternate.













