Faduli1.com – Di tengah berkembangnya aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel di Pulau Obi, keberadaan mata air di Desa Kawasi, Halmahera Selatan, tetap menjadi penopang utama kehidupan masyarakat.(senin/03/31/2026)
Di kawasan yang berdekatan dengan industri tersebut, air tidak sekadar menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga simbol penting dari keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan operasional tambang.
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, menegaskan bahwa keberlanjutan sumber air sangat ditentukan oleh cara manusia memperlakukan alam.
“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ujarnya.
Secara hidrogeologis, mata air Kawasi berasal dari akuifer dangkal di kawasan hutan dan dataran tinggi Obi bagian timur. Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat sejumlah langkah pelestarian telah dilakukan, mulai dari perlindungan daerah tangkapan air, pembangunan jaringan distribusi ke permukiman warga, hingga pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber air.
Menurutnya, tata kelola air yang ideal harus mengacu pada prinsip neraca air, yakni keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan. Ketersediaan tersebut didukung oleh curah hujan, sungai, mata air, serta kemampuan ekosistem menyimpan air melalui tutupan vegetasi.
Budhi juga menilai jalur mata air Kawasi tidak beririsan dengan sistem pengelolaan sedimentasi tambang, sehingga relatif terlindungi dari dampak aktivitas operasional.
Pemanfaatan air pun dipisahkan secara tegas. Mata air diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat, sementara operasional industri menggunakan air permukaan dari Danau Karo tanpa memanfaatkan air tanah.
Pengujian kualitas air dilakukan secara berkala melalui laboratorium independen. Hasil uji pada April 2025 menunjukkan indikator kualitas masih berada dalam batas aman, di antaranya pH 7,87, kandungan Chromium Hexavalent (Cr-VI) yang sangat rendah, serta kadar oksigen yang sesuai standar.
“Berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu, menurut saya, sudah memadai,” kata Budhi.
Bagi warga Kawasi, kondisi air bersih yang terus terjaga menjadi indikator paling nyata dari pengelolaan tersebut. Salah satu warga, Yulius Langkodi, mengaku kebutuhan air bersih kini tidak lagi menjadi persoalan.
“Urusan air bersih sudah nyaman,” ujarnya.
Di banyak wilayah tambang, persoalan air kerap menjadi sumber konflik. Namun di Kawasi, mata air justru hadir sebagai simbol bahwa keseimbangan antara aktivitas industri dan kehidupan masyarakat masih dapat dipertahankan.
Hingga saat ini, mata air Kawasi tetap mengalir sebagai penjaga kehidupan, sekaligus menjadi cermin harmoni antara alam dan aktivitas tambang.
(Faduli)













