Said Marsaoly: Dari Media Cetak Nasional, Belajar Etika Pers, Hingga Kiprah Sosial di Maluku Utara

Spread the love

Said Marsaoly

FaduliNews_Tidak banyak orang yang tahu bahwa perjalanan saya sebelum mendirikan perusahaan sendiri dimulai dari dunia pers nasional. Saya, Said Marsaoly, pernah bergabung di sebuah media cetak nasional — Tabloid Berita Investigasi Nasional — kurang lebih selama delapan tahun. Dari sanalah saya ditempa.(senin/25/08/2025)

banner 336x280

Di Bandung,( jawa barat) saya belajar langsung dari senior-senior yang sudah kenyang pengalaman. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya melakukan liputan di Jakarta, terutama di kementerian. Dunia wartawan saat itu tidak sekadar menulis berita, tetapi juga menuntut keberanian, integritas, dan kecermatan.

Saya ingat betul, dalam perjalanan karier jurnalistik itu saya pernah menyambangi Dewan Pers. Dari kunjungan tersebut, saya diberikan buku saku pedoman pers. Buku kecil itu ternyata sangat berharga. Di dalamnya tertulis tentang kode etik jurnalistik, fungsi, dan peran pers nasional. Buku itu kemudian saya jadikan pegangan, dan hingga kini masih saya gunakan sebagai acuan dalam berkarya.

Karena bagi saya, pers bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendidik masyarakat, menjadi kontrol sosial, dan menjembatani kepentingan publik dengan pemerintah.

Jejak di Lapangan: Menyatu dengan Masyarakat dan Pejabat

Perjalanan saya tidak berhenti di meja redaksi. Justru sebaliknya, saya banyak belajar ketika berada di lapangan. Dalam berbagai kesempatan, saya terlibat langsung dengan pejabat pusat maupun daerah.

Salah satunya ketika ikut menanam pohon bersama Kapolda Maluku Utara saat itu, Irjen Pol Rikwanto, yang kini terjun ke politik dan duduk sebagai anggota DPR RI Fraksi Golkar. Dari kegiatan itu saya belajar, pers tidak harus berseberangan dengan aparat atau pejabat, melainkan bisa menjadi mitra kritis yang saling menguatkan.

Saya juga tidak tinggal diam ketika pandemi Covid-19 melanda. Waktu itu, saya ikut menggalang dan menyalurkan ribuan masker untuk masyarakat. Begitu pula saat banjir melanda Halmahera Tengah tahun 2024. Bersama rekan-rekan, saya membuka posko peduli dan berhasil menghimpun bantuan delapan karung besar sembako serta kebutuhan pokok untuk warga terdampak di Desa Lelilef.

Penghargaan sebagai Bukti Dedikasi

Dedikasi kecil saya di dunia pers dan sosial akhirnya mendapatkan apresiasi. Pada tahun 2023, saya menerima plakat penghargaan dari Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Risafudin Nurdin. Bagi saya, penghargaan itu bukan sekadar simbol, tetapi sebuah amanah untuk terus berkontribusi melalui karya jurnalistik yang sehat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menjaga Marwah Pers di Daerah

Dari semua perjalanan itu, ada satu hal yang selalu saya pegang: pers harus menjaga marwahnya. Wartawan tidak boleh hanya mengejar sensasi, tapi harus berdiri di atas kepentingan publik.

Saya percaya, di daerah seperti Maluku Utara, peran pers menjadi sangat penting. Di tengah keterbatasan informasi dan akses publik, wartawan harus hadir untuk memastikan transparansi, menyuarakan aspirasi rakyat, dan mendukung pembangunan yang adil.

Menjadi wartawan bagi saya bukan sekadar piawai menulis berita. Wartawan juga harus memiliki rasa peduli, berjiwa sosial, dan mampu membangun kemitraan yang sehat dengan stakeholder. Hanya dengan begitu, pers bisa menjadi pilar demokrasi yang sesungguhnya.

Itulah sedikit catatan perjalanan saya. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bahan refleksi sekaligus edukasi bagi rekan-rekan jurnalis muda dan masyarakat luas tentang betapa pentingnya menjaga peran pers di tengah dinamika bangsa.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *