by ochen/Moksen Sirfefa
FaduliNews_Provinsi Maluku Utara pernah dinobatkan sebagai provinsi dengan tingkat kebahagiaan paling tinggi di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, Maluku Utara memiliki skor indeks kebahagiaan tertinggi yaitu 76,34, yang terdiri dari tiga dimensi kehidupan, yaitu dimensi kepuasan hidup 80,88, yang menggambarkan kepuasan hidup secara personal dan sosial, diimensi perasaan 68,54, yang mencakup perasaan positif dan negatif, dan dimensi makna hidup 79,41, yang terkait dengan makna dan tujuan hidup.
Peringkat ini menunjukkan bahwa masyarakat Maluku Utara memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa data ini mungkin sudah bergeser dan peringkat kebahagiaan dapat berubah seiring waktu. Sebab, pertumbuhan yang tinggi tapi tidak merata berpengaruh pada daya beli masyarakat yang tidak merata pula. Demikian juga tingkat pengangguran yang tinggi, perceraian, stres, bunuh diri, ekonomi dan politik yang tidak stabil, kerusakan lingkungan yang parah, dan tingkat kepuasan publik pada pemerintah pun bisa meruntuhkan asumsi tingkat kebahagiaan tersebut. Semua penyebab ini membutuhkan penelitian statistik yang sistematik.
Di tengah realitas sosial Maluku Utara yang dibilang bahagia tapi masih susah atau miskin tapi selalu tersenyum itu muncullah Tete Ali. Seorang tua paruh baya di pulau Morotai yang menjadi obyek konten media sosial anak-anak muda di sekelilingnya untuk meraup fulus. Para pemuda ini boleh jadi memilih pekerjaan konten kreator karena tidak ada lagi lapangan pekerjaan bagi mereka. Terlepas dari sekedar iseng bikin hal “garap” (humor), menghibur masyarakat, faktor “cari doi” tak bisa diabaikan begitu saja.
Psikologi Humor
Humor dapat menjadi bentuk pelarian dari frustrasi sosial, mengurangi ketegangan dan stres. Humor dapat mengalihkan perhatian dari masalah sosial yang dihadapi dan memberikan kesempatan untuk melepaskan diri dari tekanan. Humor dapat membantu membangun komunitas dan memperkuat hubungan sosial dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa. Teori Relief dalam psikologi humor dikaitkan dengan Herbert Spencer dan Sigmund Freud. Mereka berpendapat bahwa humor dan tawa muncul dari pelepasan energi yang terpendam atau ketegangan yang terakumulasi.
Spencer berpendapat bahwa tawa adalah cara untuk melepaskan ketegangan yang terakumulasi dalam tubuh dan pikiran. Ia percaya bahwa ketika kita tertawa, kita melepaskan energi yang terpendam dan merasa lebih santai. Sementara bagi Freud, humor dan tawa dapat menjadi cara untuk melepaskan ketegangan dan energi yang terpendam, terutama yang terkait dengan keinginan dan konflik yang tidak dapat diterima secara sosial. Ia percaya bahwa humor dapat menjadi cara untuk mengatasi ketegangan dan konflik internal. Yang jelas, terrawa memiliki banyak manfaat psikologis, seperti mengurangi stres, meningkatkan _mood,_ dan memperkuat hubungan sosial.
*Makna Ungkapan Pejoratif*
Materi kreasi Tete Ali tidak mendalam. Ia hanya menyasar hal remeh-temeh yang dikonstruksi oleh para kreator untuk memancing reaksi sang Tete. Kalau mereka yang bukan berasal dari kawasan timur Indonesia, bentakan dan makian yang dilontarkan Tete Ali pasti dipandang kurang wajar bahkan kurang ajar. Apalagi itu dilakukan oleh seorang Tete Ali yang sudah sepuh. Tapi bagi orang Maluku Utara dan umumnya Sulawesi hingga Papua, fenomena Tete Ali adalah hal biasa.
Tete Ali mewakili segmen sosial yang _nothing to lose,_ semata-mata membuat masyarakat bahagia. Reaksi Tete Ali dengan kalimat pejoratif dan makian adalah hal yang distimulasi oleh para konten kreator. Inti kontennya dimaksudkan agar masyarakat terhibur. Kalau bukan sebagai follower, minimal masyarakat suka dengan konten Tete Ali yang menghibur dan melepaskan ketegangan. Bukan untuk menyinggung atau merugikan orang lain.
Dalam perspektif filsafat, ungkapan pejoratif dapat menjadi objek analisis yang kompleks dan menarik. Dengan memahami makna di balik ungkapan pejoratif, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang konstruksi sosial, kekuasaan, identitas, dan etika. Dengan begitu, mengatakan Tete Ali secara moral tidak etis dan secara syariat berdosa, nampaknya tidak kontekstual.
*Teori Keseimbangan*
Tete Ali berhasil mengalihkan orientasi masyarakat Maluku Utara dari dunia politik ke dunia humor. Mereka dapat menyegarkan kembali pikirannya dari rasa frustrasi yang mendalam di dunia politik. Seperti kata Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, “mengurus politik jangan terlalu serius. Santai, elastis, dinamis tapi menukik.” Nah, mayoritas orang Maluku Utara mulai bosan mengikuti konten gubernur Sherly yang monoton dan cenderung pencitraan. Mereka mulai beralih ke Tete Ali.
Secara filosofis, ungkapan pejoratif dapat digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol atas orang lain. Dalam kaitan ini, mereka yang kalah tak perlu memaki-maki siapa yang mempecundangi mereka dalam kontestasi politik. Cukup diwakili Tete Ali saja. Kemarahan dan frustrasi mereka — meminjam Freud — sudah ditransferensi menjadi energi baru-terbarukan. Kemarahan di dunia politik berhasil dijinakkan di dunia humor.
Akhirul kalam, membaca fenomena Tete Ali tidak semata-mata untuk kebutuhan rating dari sang kreator tapi juga politis. Konten Tete Ali secara psikopolitik memiliki kemampuan mempengaruhi psikologi massa melalui ujaran, tindakan dan aksi kocaknya. Apakah ini kebetulan atau benar-benar sebuah disain politik medsos? Ternyata Sherly dan Tete Ali, keduanya sama-sama berasal dari pulau Morotai. Bisa saja ini semacam cara menciptakan keseimbangan publik untuk membangun Maluku Utara; ada yang serius, ada yang _panggarap._
Ciputat, 2 Agustus 2025.








