FaduliNews_Tidore, 1 September 2025 – Senin siang, suasana Kota Tidore Kepulauan dipenuhi semangat demokrasi. Kurang lebih 150 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai organisasi, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tidore, NPU, dan kelompok pro-demokrasi, melakukan aksi longmarch menuju Polresta Tidore. Dengan membentangkan bendera organisasi, spanduk tuntutan, dan poster-poster kritis, mereka menyuarakan mosi tidak percaya kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Aksi ini merupakan respon atas peristiwa tragis yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (28/8/2025). Bagi mahasiswa, peristiwa itu adalah bukti nyata penyimpangan aparat dari tugas pokoknya.
Enam Tuntutan Mahasiswa
Dalam selebaran sikap resmi, HMI Tidore menyinggung amanat Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, khususnya Pasal 13 dan 14, yang menegaskan polisi bertugas menjaga keselamatan jiwa masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dari musyawarah internal, mahasiswa merumuskan enam tuntutan utama:
-
Mengadili pelaku pembunuhan di peradilan umum.
-
Mendesak Kapolri mundur dari jabatannya.
-
Melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Polri.
-
Menghentikan kekerasan terhadap massa aksi.
-
Menghentikan intimidasi kepada mahasiswa dan masyarakat.
-
Menangani massa aksi sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Longmarch Damai di Jalan Utama
Pantauan FaduliNews di lapangan memperlihatkan barisan panjang mahasiswa dan mahasiswi berjalan tertib dari titik kumpul menuju halaman Polresta Tidore. Spanduk besar bertuliskan “Mosi Tidak Percaya” dibawa di barisan depan, sementara poster bernada sindiran seperti “Polisi ✘, Polusi ✔” tampak diangkat tinggi.
Sorak yel-yel perjuangan menggema, diselingi orasi bergantian. Warga yang melintas terlihat memberi perhatian besar, sebagian berhenti untuk menyaksikan, bahkan ada yang memberi acungan jempol sebagai tanda simpati.
Adu Argumen Mencair Jadi Dialog Santun
Sesampainya di halaman Polresta, mahasiswa sempat bersuara lantang menyampaikan keresahan mereka. Adu argumen dengan aparat tak terhindarkan, suasana sempat memanas. Namun, ketegangan itu mencair ketika Kapolresta Tidore turun langsung menemui mahasiswa.

“Kami aparat di lapangan menjalankan tugas sesuai dengan arahan Kapolri. Hari ini kami menerima aspirasi rekan-rekan mahasiswa dengan penuh rasa hormat, sebab menyampaikan pendapat adalah hak yang dijamin undang-undang. Namun mari kita juga ingat, ada kewajiban menjaga hak orang lain. Polisi dan mahasiswa sama-sama bagian dari rakyat,” ujar Kapolresta.
Kritik dan Apresiasi dari Mahasiswa
Meski tetap menyampaikan tuntutan keras, mahasiswa mengapresiasi sikap santun Kapolresta.
“Kami akan tetap kritis terhadap institusi Polri dan menuntut perubahan nyata. Namun, kami juga menghargai sikap Kapolresta Tidore yang menerima kami dengan terbuka, menjawab pertanyaan kami dengan santun, dan memberi ruang diskusi. Itu contoh dialog yang sehat,” kata salah seorang orator.
Pernyataan itu mencerminkan keseimbangan: mahasiswa menjaga idealisme, sekaligus mengakui adanya ruang komunikasi yang patut dihormati.
Apresiasi untuk Kapolresta dan Jajaran
Sebagai penutup aksi, Kapolresta menunjukkan kepedulian dengan memerintahkan jajarannya untuk mengantar mahasiswa kembali ke titik kumpul. Dua unit truk dan satu unit mobil D-Max disiapkan.
Momen keberangkatan itu penuh keakraban. Banyak mahasiswa dan mahasiswi tersenyum lepas, melambaikan tangan, serta mengucapkan terima kasih kepada Kapolresta dan jajaran. Aksi yang semula tegang pun berakhir dengan nuansa persaudaraan.
Inspirasi dari Tidore
Aksi mahasiswa kali ini menegaskan bahwa perbedaan pandangan tidak harus berujung konflik. Dengan komunikasi yang sehat, aspirasi bisa tersampaikan dan dihargai.
Sikap Kapolresta Tidore, yang menjalankan arahan Kapolri sebagai pimpinan tertinggi Polri, menjadi contoh inspiratif bahwa penegakan hukum dapat sejalan dengan penghormatan terhadap hak rakyat. Begitu pula mahasiswa, yang tetap konsisten menyuarakan kritik secara damai.
Dari halaman Polresta Tidore, tersampaikan pesan moral bahwa demokrasi tumbuh subur bila aparat dan rakyat saling menghormati. Dialog, keterbukaan, dan persaudaraan adalah jalan terbaik menjaga persatuan bangsa.
(Faduli)










