Easybook Hari Pertama di Pelabuhan Bastiong Tuai Kekacauan, Publik Pertanyakan Sosialisasi dan Siapa Pengelola Pihak Ketiga

Spread the love

Faduli1.com – Hari pertama penerapan sistem Easybook dan pembayaran parkir elektronik (e-parking) di Pelabuhan Bastiong, Kota Ternate, Kamis (16/7/2026), menuai sorotan tajam dari masyarakat. Penerapan sistem baru tersebut dinilai dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai, sehingga banyak penumpang, pengemudi kendaraan hingga nahkoda speed boat dibuat kebingungan.

Pantauan Faduli1.com di lokasi sejak pagi menunjukkan suasana di pintu masuk pelabuhan dipenuhi masyarakat yang bertanya mengenai mekanisme baru tersebut. Jika sebelumnya pengguna jasa hanya menggunakan karcis manual, kini setiap kendaraan diwajibkan mengambil tiket melalui palang otomatis (gate) sebelum memasuki kawasan pelabuhan.

banner 336x280

Banyak penumpang yang hendak menyeberang dari Ternate menuju Tidore mengaku baru mengetahui adanya perubahan sistem setelah tiba di pintu masuk pelabuhan.

“Kalau sosialisasinya hanya lewat baliho di dalam pelabuhan, bagaimana masyarakat bisa tahu? Kami baru tahu setelah sampai di sini,” keluh salah seorang penumpang.

Selain itu, sebagian masyarakat juga masih bingung dengan mekanisme pembayaran menggunakan e-wallet maupun proses top up, sementara sebelumnya pembayaran dilakukan secara tunai. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengguna jasa harus bertanya kepada petugas maupun sesama penumpang.

Tak hanya penumpang, sejumlah nahkoda speed boat juga terlihat kebingungan ketika hendak keluar dari kawasan pelabuhan karena belum memahami tata cara penggunaan sistem yang baru diterapkan.

Padahal, sebelumnya penerapan Easybook sempat direncanakan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2026. Namun rencana tersebut tidak terlaksana. Tanpa adanya pengumuman resmi kepada masyarakat, sistem itu justru mulai dioperasikan secara tiba-tiba pada Kamis pagi.

Masyarakat menilai perubahan sistem pelayanan publik semestinya diawali dengan sosialisasi secara luas melalui media massa, media sosial, maupun pemberitahuan langsung kepada masyarakat dan operator transportasi agar pengguna jasa memahami mekanisme yang akan diterapkan.

Selain minim sosialisasi, warga juga mengkhawatirkan dampak penerapan sistem gate otomatis terhadap arus lalu lintas di sekitar Pelabuhan Bastiong.

Menurut mereka, akses keluar-masuk pelabuhan relatif sempit. Dengan adanya kewajiban setiap kendaraan berhenti mengambil tiket saat masuk dan melakukan proses validasi saat keluar, dikhawatirkan akan memicu antrean panjang hingga menyebabkan kemacetan di ruas jalan menuju pelabuhan.

“Kalau tidak dipersiapkan dengan matang, nanti bisa macet panjang. Semua kendaraan harus berhenti mengambil tiket, sementara akses pelabuhan sempit,” ujar seorang warga.

Pantauan wartawan juga menemukan persoalan yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna pelabuhan. Saat palang otomatis naik dan turun, hampir mengenai kepala seorang pejalan kaki yang sedang melintas. Beruntung warga di sekitar lokasi sempat berteriak sehingga orang tersebut menghentikan langkahnya dan terhindar dari benturan.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat yang meminta agar aspek keselamatan pengguna jasa tidak diabaikan dalam penerapan sistem baru.

Sementara itu, sejak Rabu (15/7/2026) malam, Faduli1.com telah berupaya meminta konfirmasi kepada petugas pihak ketiga yang bertugas mengelola sistem keluar-masuk kendaraan dan penumpang di Pelabuhan Bastiong. Namun, petugas di lapangan mengaku tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan kepada media.

Mereka hanya menyarankan agar wartawan menunggu penjelasan dari penanggung jawab atau pimpinan perusahaan yang menangani operasional sistem tersebut.

Kondisi tersebut justru memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Hingga hari pertama penerapan Easybook, belum ada penjelasan resmi mengenai perusahaan atau badan usaha pihak ketiga yang mengelola sistem tersebut.

Sejumlah warga menilai informasi mengenai pengelola pelayanan publik seharusnya disampaikan secara terbuka agar masyarakat mengetahui siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kendala di lapangan.

“Kalau memang sudah dikelola pihak ketiga, masyarakat juga berhak tahu perusahaan apa yang mengelolanya. Jangan sampai terkesan tertutup, karena ini menyangkut pelayanan publik,” ujar salah seorang warga.

Warga juga menyayangkan tidak hadirnya pimpinan maupun penanggung jawab di lokasi pada hari pertama penerapan sistem. Menurut mereka, momentum perdana seharusnya dimanfaatkan untuk memantau langsung pelaksanaan, memberikan penjelasan kepada masyarakat, serta mengambil langkah cepat apabila ditemukan kendala.

“Seharusnya pimpinan berada di lokasi saat hari pertama. Kalau ada masyarakat yang bingung, bisa langsung diberikan penjelasan. Bukan justru tidak berada di tempat,” tegas warga.

Hingga berita ini diterbitkan, identitas perusahaan pihak ketiga yang mengelola sistem Easybook dan pintu otomatis keluar-masuk di Pelabuhan Bastiong masih belum diketahui. Faduli1.com masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari penanggung jawab maupun instansi terkait guna memastikan perusahaan pengelola, dasar kerja sama, serta mekanisme penerapan sistem tersebut demi menjawab pertanyaan publik.(faduli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *