Faduli1.com | Halmahera –Timur, Di balik sunyinya pelosok pedalaman Halmahera, tersimpan potret dakwah yang nyaris tak terdengar, namun menyala kuat dalam kesederhanaan. Saat malam tiba dan gelap menyelimuti kampung, anak-anak hingga orang tua berkumpul belajar Al-Qur’an dengan penerangan lilin seadanya.
Tanpa aliran listrik, tanpa ruang kelas, tanpa bangku belajar. Hanya papan kayu sederhana, mushaf Al-Qur’an yang mulai lusuh, dan satu pelita kecil yang menjadi satu-satunya sumber cahaya.
Dari cahaya redup itulah, huruf demi huruf Al-Qur’an dieja dengan penuh kesabaran. Para mualaf dan warga setempat duduk melingkar, menyimak bimbingan seorang dai pedalaman yang dengan telaten membenahi bacaan, sekaligus menanamkan nilai iman di hati yang polos dan tulus.
Da’i Pedalaman Halmahera, Ustad Nurhadi, menuturkan bahwa kondisi serba terbatas tidak pernah menyurutkan semangat belajar warga.
“Mereka tidak pernah mengeluh soal fasilitas. Yang ada hanya semangat dan kerinduan untuk lebih dekat dengan Allah. Di sinilah kami belajar bahwa iman tidak bergantung pada kemewahan,” ujar Ustad Nurhadi kepada Faduli1.com.
Menurutnya, dakwah di pedalaman bukan tentang megahnya bangunan atau lengkapnya sarana, melainkan tentang keikhlasan dan keteguhan hati. Dalam dinginnya malam, anak-anak tetap bertahan hingga pelajaran usai, seolah tak ingin melewatkan satu huruf pun dari Kalam Ilahi.
Potret ini menjadi wajah lain dakwah di Indonesia timur—sunyi, sederhana, namun sarat makna. Dari keterbatasan itulah cahaya iman justru tumbuh dengan kuat, mengajarkan arti syukur yang sesungguhnya.
“Semoga setiap huruf yang mereka baca menjadi saksi di hadapan Allah, dan setiap langkah dai pedalaman dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus,” harap Ustad Nurhadi.
Dakwah pedalaman Halmahera terus berjalan, dengan harapan dan doa agar cahaya kecil yang menyala di malam gelap itu, tak pernah padam.
Reporter: Ahmad Komarudin
Editor: Faduli1.com
