Tidore Bersatu, Digital Aman: Saatnya Rakyat Cerdas dan Hati Kita Disatukan
Oleh: Om Faduli
ย Di era digital, kecepatan informasi bukan lagi jaminan kebenaran. Bagi Om Faduli, Tidore harus belajar satu hal penting: bukan sekadar melek teknologi, tapi melek hati dan persaudaraan.
Sebab di balik layar kecil di tangan kita, ada pertarungan besar antara kebaikan, kebohongan, dan masa depan negeri.(Minggu/02/11/2025)
Bicara dari Hati Orang Tidore
Om Faduli mau sampaikan โ ini bukan soal teknologi rumit atau kode komputer yang bikin kepala pening.
Hari ini Om ingin bicara tentang hati kita sebagai orang Tidore.
Tentang bagaimana dunia digital, kalau tidak kita kendalikan dengan akal sehat dan semangat persatuan, bisa jadi racun yang memecah rumah sendiri.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang tanpa diundang, menyelinap lewat layar kecil di tangan. Tapi ironisnya, makin cepat informasi datang, makin cepat pula perpecahan bisa menyebar.
Bukan karena kita bodoh โ tapi karena kita sering lupa untuk berhenti sejenak, membaca dengan hati, dan berpikir dengan kepala dingin.
Politik Sudah Usai, Jangan Biarkan Hoaks Menyala Lagi
Om Faduli tahu, masih ada sisa rasa dari kontestasi politik kemarin. Ada yang tersinggung, ada yang kecewa, ada yang merasa tak dianggap.
Tapi dengar baik-baik, saudara-saudaraku โ politik itu hak, bukan dendam.
Contohnya di pemilihan gubernur kemarin, masih ada sebagian pihak yang belum menerima Sherly Djuanda Laos sebagai Gubernur dan Sarbin Sehe sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara.
Ini keliru. Suka tidak suka, mau tidak mau, mereka sudah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, dan itu sah secara aturan.
Maka mari kita berpikir lebih bijak untuk regenerasi. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan โ sama seperti kita semua.
Basudara di Maluku Utara, mari jaga tali silaturahmi. Negeri ini bertuan dari pelosok desa sampai pusat kota.
Sejarah Maluku Utara tak pernah lepas dari peran empat kesultanan besar: Tidore, Ternate, Bacan, dan Jailolo.
Jangan pernah abaikan peran para sultan dan adat, karena mereka pemilik sah negeri ini.
Tanah, tambang, danย adat semuanya masuk wilayah merekaย Jangan menghina, tapi hormati Perjuangan anak cucu adat yang juga bagian dari perjuanganโ sebab kehormatan merekalah yang menjaga keseimbangan negeri ini.
Sekali lagi, masa pemilihan telah usai. Api pertikaian seharusnya padam.
Yang menang bukan berarti paling benar, dan yang kalah bukan berarti musuh.
Semua tetap anak Tidore, tetap satu rumah, satu negeri.
Sayangnya, kadang yang gagal padam bukan api politik, tapi bara hoaks yang terus dikipas di dunia maya.
Ada yang menyebarkan kabar palsu demi melampiaskan sakit hati, ada pula yang tanpa sadar ikut meneruskan fitnah karena tak mau periksa kebenarannya.
Om Faduli mau bilang tegas:
Hoaks itu bukan sekadar berita palsu โ tapi racun yang perlahan membunuh kepercayaan di antara kita.
Kalau Tidore mau maju, kita harus mulai dari sini: berdamai dengan masa lalu dan beradaptasi dengan masa depan digital.
Belajar dari Ayah Erik: Merangkul, Bukan Menyalahkan
Om Faduli banyak belajar dari sosok Wali Kota kita, Bapak Muhammad Sinen, atau yang kita kenal sebagai Ayah Erik.
Beliau tidak sibuk menyalahkan siapa yang dulu lawan, tapi justru merangkul dan mengajak duduk bersama.
Setiap kali beliau bicara di tengah masyarakat, pesannya sederhana tapi dalam:
โPolitik sudah selesai. Sekarang waktunya kita bangun Tidore bersama.โ
Itulah semangat pemimpin sejati.
Bukan mencari siapa yang salah, tapi siapa yang bisa diajak bekerja sama.
Bukan memperpanjang luka, tapi menumbuhkan harapan baru.
Tidore butuh lebih banyak orang seperti Ayah Erik โ orang yang berjiwa besar, karena hanya hati yang lapang yang bisa memimpin rakyat kecil tanpa prasangka.
Kalau pemimpin sudah mau merangkul, kenapa rakyatnya masih mau menolak?
Kalau wali kota sudah menghapus sekat, kenapa kita masih sibuk menggali jurang?
Adaptasi Digital: Benteng Baru Rakyat Tidore
Sekarang dunia sudah berubah.
Perang bukan lagi di medan laga, tapi di layar-layar telepon genggam.
Musuh kita bukan lagi penjajah berseragam, tapi penipu digital, penyebar hoaks, dan provokator dunia maya.
Mereka tidak datang dengan senjata, tapi dengan pesan-pesan bohong yang tampak meyakinkan.
Mereka tidak merampok dengan parang, tapi dengan link palsu dan kode OTP.
Karena itu, adaptasi teknologi bukan lagi pilihan โ tapi kewajiban rakyat cerdas.
Kita harus belajar mengamankan data, menyaring berita, dan menggunakan media sosial dengan bijak.
Bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk saling menguatkan.
Kalau kita bisa menjaga sawah dari hama, kenapa tidak bisa menjaga pikiran dari fitnah digital?
Kalau kita bisa menyapu halaman rumah, kenapa tidak bisa membersihkan linimasa dari kebohongan?
Bangun Tidore dari Dunia Maya ke Dunia Nyata
Adaptasi teknologi yang hebat bukan diukur dari seberapa cepat kita pakai aplikasi baru,
tapi seberapa dalam kita memanfaatkannya untuk kebaikan sosial.
Kalau kita pakai WhatsApp untuk menyebar jadwal gotong royong โ itu adaptasi.
Kalau kita gunakan Facebook untuk promosi produk lokal โ itu kemajuan.
Kalau kita belajar cek fakta sebelum menyebar berita โ itu kecerdasan.
Dan kalau kita saling mendoakan di kolom komentar โ itulah persaudaraan digital.
Masyarakat Tidore harus jadi contoh.
Kita punya warisan budaya yang tinggi: santun dalam tutur, lembut dalam hati, dan teguh dalam persaudaraan.
Mari bawa nilai-nilai itu ke dunia digital, supaya orang luar tahu โ
meski dunia maya bisa panas, hati orang Tidore tetap sejuk.
Penutup: Bersatu, Melek Digital, dan Cinta Negeri
Om Faduli ingin akhiri dengan satu pesan sederhana tapi kuat:
โBersatu kita teguh, bercerai kita rugi.Tapi di zaman digital ini, hoaks bisa memecah kita lebih cepat daripada apa pun.โ
Jadi mari, rakyat Tidore tercinta โ
Kita dukung bersama kepemimpinan Bapak Muhammad Sinen dan Bapak Ahmad Laiman dengan cara yang paling mulia:
menjadi rakyat yang cerdas, rukun, dan aman digital.
Om Faduli percaya,
kalau kita bersatu hati โ tak ada kejahatan IT yang bisa menipu kita,
tak ada hoaks yang bisa membelah kita,
dan tak ada dendam masa lalu yang bisa menghentikan langkah kita menuju masa depan.
Salam Cerdas Digital! Tidore Bersatu, Digital Aman!
#OMFADULIPEDULI














