FaduliNews_Weda, 4 Agustus 2025 Di kaki Bukit Loiteglas, Weda—sebuah ruang tenang di jantung Halmahera Tengah—sebuah monumen mulai dibangun. Bukan sekadar tugu dari batu dan semen, melainkan monumen ingatan yang mencoba menjangkau kembali jejak panjang satuan elit Polri yang pernah berdiri di garis depan perlawanan: Brigade Mobil.
Senin pagi, 4 Agustus 2025, Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si., memimpin prosesi peletakan batu pertama pembangunan Tugu Brimob di taman yang akan menjadi titik refleksi sejarah ini. Yang menarik, pada momen sakral itu, sang Kapolda mengenakan baret merah khas Brimob—simbol keberanian dan pengabdian yang telah tertanam dalam sejarah panjang satuan tersebut.
“Penggunaan baret ini bukan tanpa alasan. Ketika mendengar rencana pembangunan Tugu Brimob, seperti yang disampaikan Bapak Bupati, semangat saya begitu tergugah,” ungkap Kapolda dengan suara bergetar di hadapan tamu yang hadir: Wakapolda Malut Brigjen Pol. Stephen M. Napiun, Bupati Halteng Ikram Malan Sangadji, jajaran Forkopimda, serta personel Brimob dan masyarakat sekitar.
Namun apa sebenarnya makna di balik tugu ini? Apa yang ingin diabadikan oleh Maluku Utara di tengah pesatnya pergerakan zaman?
Dari Tokubetsu Kaisatsu Tai ke Brimob
Kapolda lalu membuka kisah dari ujung sejarah. Tentu bukan dongeng, tapi riwayat panjang yang nyaris dilupakan.
Pada April 1944, saat dunia terperangkap dalam Perang Dunia II dan tanah air terjajah Jepang, lahirlah Tokubetsu Kaisatsu Tai, pasukan polisi khusus bentukan Jepang. Namun, dari rahim kekuasaan fasis ini justru muncul tunas perlawanan: pasukan ini kelak menjadi cikal bakal Polisi Istimewa, yang pada 1945 berperan besar melucuti senjata Jepang dan menyerahkannya bukan kepada Sekutu, melainkan kepada para pejuang kemerdekaan.
Inilah titik sejarah yang menandai hadirnya Mobrig (Mobile Brigade)—unit elit Polri yang tangguh dan fleksibel, yang namanya diubah oleh Presiden Soekarno menjadi Brimob pada tahun 1961. Di tengah sejarah republik yang penuh pergolakan, Brimob selalu hadir: dari penumpasan pemberontakan, menjaga daerah konflik, hingga operasi pembebasan Irian Barat.
Maluku Utara, Tanah Perlawanan yang Terlupakan
Apa kaitan Maluku Utara dengan semua ini? Lebih dari yang kita kira.
Kapolda mengingatkan bahwa Weda, Tidore, Ternate, Sofifi hingga Pulau Gebe bukan sekadar titik di peta. Di masa lalu, mereka adalah simpul-simpul penting dalam operasi pembebasan Irian Barat dan gerakan pengamanan wilayah timur. Bahkan di Tidore, terdapat makam dua anggota Pelopor Brimob yang gugur akibat malaria—mereka tak gugur oleh peluru, tetapi tetap syahid dalam tugas negara.
Kisah ini tak pernah masuk buku pelajaran. Tak pernah jadi headline nasional. Tapi hari ini, sejarah itu dibangkitkan kembali lewat tugu yang akan berdiri megah di Weda.
Ikram Malan Sangadji: Putra Brimob, Penjaga Api Sejarah
Pembangunan tugu ini tak lepas dari peran Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, yang menurut Kapolda, adalah “putra dari pejuang Brimob.”
“Saya mengapresiasi Bupati Halteng, Bapak Ikram Malan Sangadji, yang melanjutkan perjuangan ayahandanya. Ini mungkin bukan kebetulan, melainkan buah dari doa orang tua beliau,” ucap Kapolda penuh haru.
Ada kesinambungan sejarah di sana. Dari seorang ayah yang bertugas di satuan Brimob, hingga seorang anak yang kini memimpin daerah dan membangun monumen untuk menjaga ingatan kolektif bangsanya.
Tugu Sebagai Sekolah Sejarah
Namun tugu ini bukan hanya tentang masa lalu. Ia dimaksudkan menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi mendatang. Sebuah sekolah terbuka yang mengajarkan keberanian, pengabdian, dan nasionalisme di tengah arus global yang sering kali memutus akar sejarah anak-anak bangsa.
Kapolda pun berharap agar Tugu Brimob di Weda dijaga dan dipelihara, bukan sekadar dijadikan latar swafoto, melainkan sebagai ruang kontemplasi.
“Diharapkan setiap anak yang berkunjung ke sini dapat memahami makna keberadaan tugu, patung, dan sejarah di baliknya. Jangan sampai kita melupakan sejarah sendiri,” tegasnya.
Mengabadikan yang Tak Diingat
Di tengah bangsa yang sering kali amnesia sejarah, langkah Polda Maluku Utara dan Pemda Halteng ini patut diapresiasi. Mereka tak sekadar membangun tugu, tetapi mengabadikan perlawanan yang tak diingat, membangkitkan cerita dari nama-nama yang nyaris tenggelam dalam senyap.
Tugu Brimob di Weda adalah monumen perlawanan yang menjadi ruang belajar. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini berdiri bukan hanya karena pidato-pidato megah di Jakarta, tapi juga karena peluh dan darah di tanah-tanah jauh seperti Halmahera.
Dan kini, di Loiteglas yang sejuk itu, batu pertama telah ditanam. Semoga ia menjadi akar dari ribuan kesadaran sejarah yang tumbuh.
(FaduliPeduli)














