Halmahera Selatan faduliNews—15/08/2025 Di tepi laut yang indah namun ganas, deru ombak di pesisir Halmahera Selatan bukan lagi sekadar musik alam. Bagi sebagian warga, suara itu telah menjadi tanda bahaya yang selalu mengintai. Setiap kali musim hujan tiba, air bah bercampur gelombang pasang merangsek masuk ke halaman rumah, mengikis tanah, dan meninggalkan rasa cemas yang tidak pernah reda.
Sudah hampir dua tahun ini kami warga masyarakat bobo,ancaman ini menghantui warga tanpa adanya tindakan nyata dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi. Tidak ada tim yang turun untuk mengevaluasi, apalagi membangun swering atau penahan ombak. Bahkan di Desa Bobo—yang juga berada di garis pesisir—kondisinya sama: tak ada perlindungan fisik yang bisa menahan gempuran laut.
Marton Dailangi, warga yang rumahnya berdiri hanya beberapa meter dari bibir pantai, mengaku setiap hujan deras membuatnya bersiap menghadapi bencana. “Kalau hujan lebat, banjir datang bawa lumpur dan tanah. Ombak besar ikut mengikis tanah sampai longsor. Kalau dibiarkan, rumah kami bisa hanyut,” ujarnya, Jumat (15/8/2025).
Marton menuturkan, sejak ia menetap di rumah itu, belum sekali pun pemerintah kabupaten dan provinsi,maupun pusat turun membantu atau memperbaiki kondisi pesisir. Padahal, setiap tahun ancamannya semakin nyata. “Sudah hampir dua tahun, belum pernah ada bantuan. Kalau di Bobo ada swering mungkin kami bisa sedikit tenang, tapi nyatanya tidak ada sama sekali,” keluhnya.
Ia berharap,pemerintah kabupaten secepatnya bergerak, tetapi juga pihak yang akan beroperasi di wilayah sekitar, seperti Sherly sebagai gubernur untuk ikut memberikan dukungan. ” Ini bukan cuma soal bangunan, tapi soal keselamatan keluarga,” tegas Marton.
Warga lainnya di pesisir Halmahera Selatan turut membenarkan kondisi tersebut. Mereka khawatir jika musim hujan dan gelombang pasang datang bersamaan, bencana abrasi besar bisa terjadi, memaksa warga meninggalkan rumah tanpa sempat menyelamatkan harta benda.
Situasi ini menjadi peringatan keras bahwa perubahan iklim, abrasi pantai, dan minimnya infrastruktur perlindungan pesisir adalah kombinasi berbahaya. Tanpa langkah konkret dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, bayangan kehilangan tempat tinggal bukan lagi ancaman masa depan—melainkan kenyataan yang tinggal menunggu waktu.














