Faduli1.com – Di tengah pesatnya perkembangan industri nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, sejumlah putra-putri daerah perlahan membuktikan diri mampu menjadi bagian penting dalam roda pembangunan dan operasional perusahaan. Dari posisi awal hingga jabatan strategis, perjalanan mereka menjadi gambaran bahwa tenaga kerja lokal memiliki peluang besar untuk berkembang melalui dedikasi dan pengalaman kerja.
Salah satu kisah datang dari Frangi Cako, pemuda asal Kawasi yang kini menjabat sebagai Supervisor Security di Harita Nickel. Ia memulai karier sejak tahun 2015 sebagai anggota security saat usianya masih 18 tahun.
Perjalanan panjang selama hampir satu dekade membawanya naik ke posisi yang lebih besar. Kini, Frangi dipercaya memimpin personel keamanan di kawasan Industrial Sektor 3.
“Di Industrial Sektor 3, kami berjumlah 43 personel dan bertugas di sejumlah titik strategis perusahaan,” ujarnya.
Menurut Frangi, tugas security bukan hanya menjaga pos keamanan, tetapi juga mencakup pengaturan personel, koordinasi keselamatan kerja hingga administrasi perkantoran. Ia mengaku selama bekerja juga mendapat berbagai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kerja.
“Kami difasilitasi belajar komputer untuk menunjang administrasi. Dulu saya belum terlalu paham, tapi di sini kami diajarkan hingga bisa mengoperasikan komputer dengan baik,” katanya.
Frangi juga menepis anggapan bahwa tenaga kerja lokal tidak mendapat ruang di perusahaan. Baginya, kesempatan selalu terbuka bagi masyarakat lokal yang mau belajar dan bekerja keras.
“Saya lahir dan besar di Kawasi. Kalau hari ini saya bisa sampai di posisi supervisor, itu berarti putra daerah juga punya kesempatan yang sama,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda Pulau Obi tidak mudah menyerah dan mau memulai dari bawah untuk mendapatkan pengalaman kerja.
“Saya butuh lebih dari 10 tahun untuk sampai di posisi sekarang. Semua proses harus dijalani dengan kerja keras dan disiplin,” tambahnya.
Dari Lapangan Hingga Memimpin Tim
Cerita lain datang dari Yokber Cecene, warga Kawasi yang kini bekerja sebagai Supervisor Construction & Engineering. Ia termasuk generasi awal masyarakat Kawasi yang direkrut perusahaan pada tahun 2007.
Saat itu, kata Yokber, dirinya bersama puluhan warga lain ikut membuka akses awal pembangunan di kawasan industri yang kini berkembang pesat.
“Kami dulu keluar masuk hutan untuk membangun fondasi awal kawasan ini,” kenangnya.
Kini Yokber dipercaya memimpin tim yang terdiri dari sejumlah foreman dan kru lapangan. Dedikasi dan tanggung jawab yang dijalankannya selama bertahun-tahun menjadi alasan dirinya dipercaya di posisi strategis.
Beberapa proyek pembangunan yang pernah dikerjakan timnya di antaranya pembangunan akses penghubung Kawasi dan Soligi.
“Dulu saya masih bujang waktu mulai kerja. Sekarang anak saya sudah mau lulus SMA dan bercita-cita masuk sekolah penerbangan,” ungkapnya bangga.
Yokber mengaku kondisi ekonomi keluarganya kini jauh lebih baik. Sang istri bahkan membuka usaha sembako di kawasan pemukiman baru Desa Kawasi.
Ia berharap generasi muda Pulau Obi terus memanfaatkan peluang kerja yang ada dan tidak takut bersaing di dunia industri.
“Banyak anak-anak Kawasi sekarang sudah punya karier bagus di perusahaan. Yang penting punya kemauan berkembang dan disiplin bekerja,” katanya.
Anak Soligi Magang Sambil Kuasai Bahasa Mandarin
Sementara itu, cerita inspiratif juga datang dari Sifa Sahbila Amirudin, remaja asal Desa Soligi yang kini menjalani program magang di Departemen HRGA Site Obi.
Di usia 19 tahun, Sifa mengikuti program PELITA (Peningkatan Keahlian dan Keterampilan), sebuah program pelatihan yang memberikan pembelajaran keterampilan kerja termasuk bahasa Mandarin.
“Saya ikut program PELITA selama enam bulan. Selain bahasa Mandarin, kami juga belajar komputer yang sangat membantu,” ujarnya.
Awalnya, Sifa mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun keterbatasan ekonomi membuat dirinya memilih mencari pengalaman kerja terlebih dahulu.
Kesempatan magang sebagai penerjemah Mandarin membuka wawasan baru baginya tentang peluang kerja di kawasan industri.
“Pengalaman ini sangat berharga bagi saya. Saya ingin terus berkembang dan menambah kemampuan agar bisa memiliki karier yang lebih baik ke depan,” katanya.
Sifa juga mengaku sempat merasa minder ketika pertama kali masuk sebagai karyawan magang. Namun dukungan dari rekan kerja membuatnya semakin percaya diri.
“Banyak karyawan yang membantu dan mengarahkan saya. Mereka menerima saya dengan sangat baik,” tuturnya.
Kisah Frangi, Yokber dan Sifa menjadi gambaran bagaimana perkembangan industri di Pulau Obi turut membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk tumbuh bersama. Dengan pengalaman, pelatihan dan kerja keras, putra-putri daerah kini perlahan menjadi bagian penting dalam industri nikel di tanah mereka sendiri.
(Faduli)











