Fadulinews.com | Jakarta, waspad 7 Juli 2025 — Mulai Selasa (8/7), masyarakat Indonesia akan mulai merasakan dampak dari fenomena Aphelion, yaitu kondisi ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Fenomena tahunan ini akan berlangsung hingga Agustus mendatang dan dapat memengaruhi suhu udara di beberapa wilayah.
Berdasarkan penjelasan ilmiah dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan para astronom, jarak Bumi ke Matahari saat Aphelion mencapai sekitar 152 juta kilometer, meningkat dari jarak rata-rata 147 juta kilometer. Meski secara visual tidak tampak perbedaan, kondisi atmosfer dapat berubah secara perlahan dan terasa oleh sebagian masyarakat.
“Fenomena Aphelion bukan hal baru. Ini terjadi setiap tahun dan bukan penyebab utama cuaca ekstrem. Namun, pada beberapa wilayah, bisa berdampak pada suhu udara yang sedikit lebih sejuk dibandingkan biasanya,” jelas seorang ahli klimatologi dari BMKG.
Meski suhu yang lebih dingin tidak selalu ekstrem, bagi sebagian orang bisa menimbulkan gejala seperti flu ringan, meriang, batuk, hingga sesak napas, terutama bila kondisi tubuh tidak fit. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga daya tahan tubuh, memperbanyak konsumsi makanan bergizi, minum air hangat, dan bila perlu mengonsumsi vitamin atau suplemen sesuai kebutuhan.
Namun demikian, beberapa klaim yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa fenomena Aphelion bisa dikaitkan dengan gelombang penyakit atau bahkan pandemi baru. Terkait hal ini, para pakar menegaskan pentingnya membedakan antara informasi ilmiah dan spekulatif.
“Tidak ada kaitannya antara Aphelion dengan munculnya varian virus baru seperti COVID-19. Menyebarkan informasi seperti ini tanpa dasar yang jelas justru dapat menimbulkan kepanikan dan disinformasi di masyarakat,” kata dr. Hendra, ahli epidemiologi dari UI.
BMKG dan otoritas kesehatan nasional tetap memantau perkembangan cuaca dan kesehatan masyarakat secara berkala. Hingga saat ini, tidak ditemukan bukti ilmiah bahwa Aphelion berdampak signifikan terhadap munculnya penyakit secara langsung.
Pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan menjaga kesehatan pribadi serta keluarga, mengingat perubahan suhu dapat berdampak pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
> “Fenomena ini adalah siklus alam biasa. Bijak dalam menyaring informasi menjadi kunci agar kita tidak mudah terprovokasi atau dibodohi oleh hoaks,” ujar juru bicara Kominfo.
Salam sehat, tetap jaga imun, dan mari hadapi musim ini dengan cerdas dan waspada.













