Aksi Damai Mahasiswa Tidore: Suarakan Enam Tuntutan untuk Polri

Spread the love

FaduliNews_Tidore, 1 September 2025 – Suasana Kota Tidore Kepulauan pada Senin siang berubah menjadi lautan massa mahasiswa. Kurang lebih 150 orang mahasiswa dari berbagai organisasi, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tidore, NPU, dan kelompok pro-demokrasi, menggelar aksi longmarch menuju Polresta Tidore. Dengan membentangkan bendera organisasi, spanduk tuntutan, serta poster-poster kritis, mereka menyuarakan mosi tidak percaya kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Aksi ini merupakan respon atas peristiwa tragis yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (28/8/2025). Insiden tersebut dinilai mahasiswa sebagai bukti nyata penyimpangan aparat penegak hukum dari tugas pokok dan fungsinya.

banner 336x280

Dalam orasinya, Ketua HMI Cabang Tidore menegaskan bahwa aksi kali ini bukanlah reaksi sesaat, melainkan akumulasi panjang dari praktik represif kepolisian sejak 2019.

“Kami menilai kepolisian telah bergeser dari fungsinya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Aparat seharusnya menjaga keamanan, bukan menjadi alat kekuasaan. Jika penegak hukum bisa bersikap adil dan profesional, maka tidak akan ada lagi korban jiwa dan pelanggaran hak rakyat,” ujarnya di hadapan massa.

Selebaran sikap resmi HMI Tidore yang dibagikan kepada publik turut memuat kronologi peristiwa serta dasar hukum yang dilanggar. Mereka menyinggung Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, khususnya Pasal 13 dan 14, yang menegaskan kewajiban polisi menjaga keselamatan jiwa masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bagi mahasiswa, wafatnya Affan adalah bukti pengingkaran terhadap amanat undang-undang.

Dari hasil musyawarah internal, mahasiswa merumuskan enam tuntutan utama:

  1. Mengadili pelaku pembunuhan di peradilan umum.

  2. Mendesak Kapolri mundur dari jabatannya.

  3. Melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Polri.

  4. Menghentikan kekerasan terhadap massa aksi.

  5. Menghentikan intimidasi kepada mahasiswa dan masyarakat.

  6. Menangani massa aksi sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Pantauan FaduliNews.com lapangan menunjukkan massa bergerak tertib dari titik kumpul menuju Mapolresta Tidore. Spanduk besar bertuliskan “Mosi Tidak Percaya” dikibarkan di barisan depan, sementara sejumlah poster sindiran seperti “Polisi ✘, Polusi ✔” terlihat di tangan mahasiswa. Sepanjang jalan, yel-yel perjuangan menggema, diselingi orasi bergantian.

Warga yang melintas berhenti sejenak menyaksikan barisan mahasiswa, bahkan beberapa pengendara mengangkat tangan sebagai tanda dukungan. Aksi ini menjadi perhatian publik karena berlangsung di jalur utama Kota Tidore.

Foto:Polwan Polresta Tikep Sedang menjalankan tugas siaga didepan mako Polresta Tikep.

Pantauan FaduliNews di Lokasi Polresta Tidore
Sesampainya di depan Polresta Tidore, massa aksi sempat berhenti dan membentuk barisan rapat. Sorak yel-yel menggema semakin keras, diiringi bendera organisasi dan spanduk tuntutan yang dikibarkan tinggi.

Petugas kepolisian terlihat berjaga dengan barisan pengamanan standar, tanpa perlengkapan berlebihan.Situasi berlangsung dalam suasana tegang namun terkendali.

Foto:Mahasiswa dan polisi saling dorong di depan mako polresta Tidore

Perwakilan mahasiswa bergantian menyampaikan orasi di depan gerbang Polresta. Mereka menegaskan bahwa aksi ini tidak ditujukan untuk menciptakan kericuhan, melainkan menyuarakan keresahan rakyat terhadap kinerja kepolisian.

Sementara itu, warga sekitar ikut menyaksikan jalannya aksi. Ada yang merekam dengan ponsel, ada pula yang sekadar memberi acungan jempol kepada barisan mahasiswa sebagai bentuk dukungan moral.

Hingga berita ini diturunkan, aksi masih terus berlangsung dengan situasi yang terpantau aman dan terkendali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *