#Opini_
Oleh: Teguh Tidore
FaduliNews_Saya bukan orang berilmu untuk mendalami sisi lain dari keberlangsungan hidup negeri Toadore. Apalagi menjadi pahlawan untuk merubah nasib sendiri. Tetapi kecukupan belajar pada sejarah dan ritus atau adat pada sandaran budaya adalah bentuk paling mendasar dari menghargai asal muasal.
Bila dihargai ini adalah momen paling nyaman semenjak saya hidup di tanah asal sendiri. Bertamu pada orang berilmu yang lebih memilih sunyi sebagai pengorbanan menjaga rumah Tidore. Pangkat yang sakral didalam mistisme ruang hidup adalah hikayat leluhur yang masih menjadi pedoman sebagai manifestasi hubungan manusia dengan Tuhan.
Sosok seorang Sowohi bagiku adalah amalan dan adab menjaga cermin diri. pada kesempatan yang intim saya pelajari bagaimana struktur sosial masyarakat Gurabunga. Dimana landasan filosofi hidup masih terjaga hingga sekarang. Ada ruang kosmologi lampau yang menjadi adab, dimulai dari syareat bersosial, hingga kenyakinan pada sumber alam sebagai bentuk kesadaran Ilahiyah.
Lima penghuni marga : adalah salah satu contoh bagaimana korelasi hubungan kesimbangan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Dimulai dari kepemilikan lahan masing-masing marga, sumber mata air, hingga rumah adat sebagai representasi tubuh manusia. Terus tumbuh sebagai syarat menjadi manusia sederhana.
Dari sosok Hi. Abdullah kenangan itu menjadi menjadi romantisme. Ada moralitas yang tersusun rapi di lereng-lereng bukit, ada rahasia yang menyimpan rahasia, ada bicara yang perlu di sembuyikan, ada ucapan yang perlu di tegakan. Penjaga dua Alam disana saya melihat betapa berat pundak sosok Hi. Abdulllah merehatkan sisi lain dari kepentingan dunia untuk merespon sisi lain dari penjaga alam kornono—Spritualitas adalah kunci dari tugas paling mulia, semenjak pensiun dari Pegawai PNS.
Barangkali saya akan patuh merenungkan lagi. Bagaimana merubah tutur, langkah atau sikap yang bisa melukai setiap orang. Pada esensinya inilah keberuntungan, bagaimana berada disamping beliau, bertanya seadanya dengan kadar kemampuan diri saya sendiri.
Menjadi orang sunyi, disanalah sosok Sowohi bekerja. Kita perlu merefleksikan kembali. Bahwa semua kebijakan yang berada di lorong lorong tembok. Tak selamanya mengembalikan nurani. Kita wajib pulang pada rumah kita sendiri. Meminta sedikit nasehat, bekerja dalam sunyi atau meniatkan apa perlu di lunasi atas kehendak batin.
Di gurabunga nuasa lebih puitis tempat kabut dan dingin menulis rahasianya sendiri. Meski berulang kali kesempatan berkunjung ke Gurabunga. Pada mata kita bukan sekedar melihat namun patuh kita berdiskusi seberapa jauh kita tersesat untuk pulang bertemu hati kecil sendiri.
Semoga inilah awal bagaimana saya merubah cara melangkah yg benar. Seperti putih pakian yang dipakai Hj. Abdulllah Sowohi Mahifa. **








