Setiap hari, penumpang dari berbagai wilayah singgah sejenak di pelabuhan ini. Ada yang menunggu kapal lanjutan, ada yang membawa barang kebutuhan keluarga, ada pula yang turun sekadar berbelanja sebelum kembali mengarungi perjalanan laut yang panjang. Di tempat inilah rasa rindu, lelah, dan harapan saling bertemu tanpa harus saling mengenal.tutur om eman pria yang di kenal tegas dan baik hati, putra asal makean ini Memahami makna pelabuhan bukan hanya sebagai fasilitas publik,kepala Sahbandar Pelabuhan Laiwui, Soleman, mengambil langkah nyata dalam menyambut dua momentum besar, yaitu Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Bulan Suci Ramadhan nantinya. Menurutnya, momen tersebut merupakan fase perjalanan yang paling sensitif secara emosional karena banyak warga Obi yang kembali ke kampung halaman mahasiswa/mahasiswi dan perantau asal obi akan kembali bertemu dengan keluarga mereka dan kebahagiaan pertemuan itu di pertemukan saat berada di pelabuhan ini.
Berdasarkan hal itu, Soleman bersama seluruh jajaran melakukan kerja nyata melalui pembenahan fasilitas, sistem pelayanan, dan peningkatan pengawasan lapangan. Sejumlah titik akses keluar–masuk penumpang, jalur pedestrian, ruang transit, serta area pelayanan publik ditata ulang agar lebih tertib, aman, dan layak digunakan oleh siapapun, khususnya penumpang pejalan kaki.
Tidak hanya menyentuh aspek fisik, Soleman memperkuat sistem pengamanan dan kontrol situasi pelabuhan. Saat ini, kamera pemantauan (CCTV) telah dipasang pada beberapa titik strategis dan langsung terhubung ke pusat monitoring untuk memastikan setiap aktivitas keluar-masuk penumpang maupun kapal dapat dipantau secara real time. Langkah ini menjadi bukti komitmen bahwa pelayanan di Pelabuhan Laiwui tidak hanya mengedepankan kenyamanan, tetapi juga keselamatan dan ketertiban.
“Sebagian orang melihat pelabuhan hanya sebagai tempat singgah. Tetapi bagi masyarakat Obi, pelabuhan ini adalah pintu untuk bertemu keluarga dan tempat di mana harapan itu kembali tumbuh,” tutur Soleman dengan nada penuh kepedulian.
Ia menegaskan bahwa pelayanan bukan hanya urusan prosedur dan administrasi, tetapi juga urusan rasa dan penghormatan terhadap setiap penumpang, baik masyarakat biasa, nelayan, pedagang, hingga pelaku perjalanan antar pulau. Bagi Soleman, setiap orang yang melintasi Pelabuhan Laiwui sedang membawa cerita, tujuan hidup, dan harapan yang harus dihargai.
Melalui komitmen kerja yang terus dilakukan secara bertahap, Pelabuhan Laiwui diharapkan menjadi ruang singgah yang nyaman, bukan hanya tempat transit. Semua perbaikan dan pemantauan yang dilakukan adalah bentuk keseriusan bahwa pulang tidak harus lelah, transit tidak harus gelisah, dan perjalanan tidak harus penuh tekanan, melainkan dapat menjadi bagian dari pengalaman yang tenang, ramah, dan manusiawi.
(Faduli)


Sentuhan Kepedulian Sahbandar Laiwui: Mengawal Kenyamanan Penumpang di Gerbang Laut Obi
FaduliN FN, Pelabuhan Laiwui bukan sekadar titik turun-naik penumpang, tetapi menjadi gerbang harapan bagi masyarakat Pulau Obi sebelum melanjutkan perjalanan ke desa-desa terpencil dan pulau–pulau kecil yang masih bergantung penuh pada transportasi laut sebagai akses utama. (Sabtu/14/11/2025)









