FaduliNews_Kejadian unjuk rasa yang berlangsung di Jakarta pada 28 Agustus 2025 dan aksi pembakaran kantor DPRD di Makassar menjadi cermin kompleksitas hubungan antara masyarakat, mahasiswa, dan aparat penegak hukum. Polisi menghadapi tantangan berat saat mengamankan massa aksi yang mulai menggunakan tongkat kayu dan batu, sementara keluarga aparat menyaksikan dari rumah dengan cemas. Anak-anak mereka, serta keluarga mahasiswa dan pelajar, turut merasakan ketegangan yang ditayangkan di televisi dan media online, sehingga menambah kepanikan.(sabtu/30/08/2025)
Melihat anak-anak mereka yang sedang bertugas, orang tua tidak bisa merasa tenang. Kejadian yang terlihat di layar kaca atau HP membuat mereka semakin gelisah, terutama saat massa aksi bertindak lebih agresif. Kondisi ini menambah tekanan psikologis bagi aparat yang bertugas, yang harus tetap menjaga profesionalisme di tengah situasi yang sulit.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa korban bisa terjadi di kedua sisi: polisi, mahasiswa, mahasiswi, bahkan pekerja seperti ojek online. Situasi ini menegaskan bahwa keselamatan diri sendiri dan orang lain harus menjadi prioritas utama sebelum segala bentuk aspirasi disampaikan.
Polisi, dalam menjalankan tugasnya, menggunakan kendaraan taktis dan water cannon sesuai SOP untuk menjaga ketertiban dan keselamatan di tengah aksi. Penyemprotan air dari mobil water cannon dilakukan bukan untuk melukai, melainkan untuk membubarkan massa dengan cara yang aman dan terkontrol, sesuai prosedur penugasan. Hal ini penting dipahami agar publik menilai tindakan aparat secara proporsional, tanpa menimbulkan salah paham atau provokasi tambahan.
Mahasiswa, pelajar, dan masyarakat yang berpartisipasi dalam aksi perlu menyadari risiko provokasi. Pihak-pihak tertentu mungkin memanfaatkan momen ini untuk memicu ketegangan atau menciptakan konflik, yang bisa merusak tujuan mulia dari penyampaian aspirasi. Oleh karena itu, kewaspadaan, disiplin, dan kehati-hatian menjadi hal yang sangat penting.
Untuk masyarakat, khususnya mahasiswa di Maluku Utara dan daerah lain, pesan pentingnya adalah: jangan mudah percaya pada isu yang belum jelas, hindari hoaks, dan jangan biarkan emosi yang tidak terkendali merugikan diri sendiri atau perjuangan orang tua. Ingat, keluarga kita termasuk TNI dan Polri, yang sejatinya bisa menjadi mitra dalam menjaga keamanan dan kelancaran aksi. Solidaritas dan kehati-hatian adalah kunci agar aspirasi tetap tersampaikan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, peristiwa di Makassar menunjukkan pentingnya menjaga fasilitas publik. Fasilitas pemerintah dibangun dari uang rakyat, dan perusakan hanya akan menambah beban pembangunan kembali. Menyampaikan aspirasi bisa dilakukan dengan cara aman dan bertanggung jawab, tanpa merusak fasilitas yang menjadi milik bersama.
Perlu dicatat juga bahwa tugas aparat di lapangan seringkali serba salah. Bayangkan jika berada di posisi mereka—dalam kendaraan yang dikepung ribuan massa, kepanikan adalah hal yang wajar. Dalam kondisi seperti ini, aparat terkadang terpaksa mengambil langkah cepat demi keselamatan diri dan orang lain. Memahami perspektif ini membantu kita menilai situasi dengan lebih adil dan tenang.
Om Faduli menambahkan apresiasi kepada Presiden yang secara cepat meminta maaf kepada keluarga almarhum ojek online, serta kepada seluruh rakyat Indonesia. Presiden juga memastikan biaya hidup orang tua korban akan ditanggung oleh negara. Langkah ini menunjukkan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat dan korban yang terdampak, sekaligus menjadi contoh kepedulian dalam situasi sulit.
Pesan moral bagi masyarakat dan mahasiswa:
-
Utamakan keselamatan diri sendiri dan orang lain saat menyampaikan aspirasi.
-
Waspada terhadap provokasi, jangan mudah terpancing isu atau hoaks.
-
Hargai langkah aparat, termasuk penggunaan water cannon dan kendaraan sesuai SOP untuk menjaga ketertiban.
-
Jangan merusak fasilitas publik; sampaikan aspirasi dengan cara aman dan bertanggung jawab.
-
Lindungi kehormatan keluarga dan masa depan diri sendiri.
-
Tetap jaga kerukunan antar warga, sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika.
-
Ingat bahwa orang tua yang melihat anak mereka bertugas akan panik; jaga keselamatan agar mereka tetap tenang.
Dengan kesadaran ini, mahasiswa, masyarakat, TNI, dan Polri bisa bersinergi demi terciptanya negara yang aman, damai, dan maju, sambil menyampaikan aspirasi dengan bijak, tertib, dan penuh tanggung jawab.
#FaduliPeduli











