FaduliNews.com – Halmahera Selatan, 14 Mei 2025 — Desa Kawasi, yang terletak di Pulau Obi, Halmahera Selatan, menampilkan dua wajah yang kontras. Di siang hari, desa ini bergemuruh oleh geliat industri nikel yang menjadi denyut nadi perekonomian daerah. Namun, di malam hari, panorama lampu-lampu dari fasilitas PT Harita Nickel menjadikan kawasan ini bak lukisan metropolitan di tengah laut Maluku.
Ironisnya, kemajuan tersebut tak sepenuhnya dinikmati secara merata. Di balik gemerlap pembangunan, perkampungan lama di pesisir desa menyimpan potret buram: tumpukan sampah plastik, genangan air limbah rumah tangga, dan rumah-rumah panggung yang terkesan terabaikan.
Kontras Antara Ecovillage dan Kawasan Lama Ecovillage—kawasan permukiman modern yang ditata rapi lengkap dengan masjid dan gereja bukti hidup rukun saling menghargai setiap suku budaya menjadi ikon pembangunan estetis di Kawasi. Kawasan ini dihuni oleh pekerja tambang,putra putri lokal, serta warga yang telah direlokasi sebagain yang sudah hidup nya bertahun-tahun yang menikah di desa Kawasi.
Namun, hanya kurang lebih satu kilo dari Ecovillage, tampak kampung lama dengan kondisi yang bertolak belakang. Sampah plastik berserakan di lorong-lorong,di perkampungan lama sebagian rumah panggung berdiri di bibir pantai dengan sanitasi yang memprihatinkan. FaduliNews mencatat bahwa pelaku pembuangan sampah sembarangan berasal dari berbagai kalangan, termasuk penduduk lama dan pendatang yang belum teredukasi mengenai pentingnya kebersihan lingkungan.
Dampaknya nyata: botol-botol plastik menjadi sarang nyamuk pembawa malaria, mengancam kesehatan masyarakat. Beberapa warga memilih bertahan di kampung lama karena alasan kultural, emosional, atau bahkan pengaruh pihak-pihak tertentu.
Peluang UMKM di Tengah Tantangan Sosial
PT Harita Nickel bersama pemerintah desa tengah mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan membangun zona UMKM di sekitar pelabuhan baru. Ratusan ruko telah disiapkan bagi warga, khususnya para pelaku usaha kecil dari perkampungan lama. Acara “Pesta Rakyat” yang digelar pada Kamis, 15 Mei 2025, menjadi momen peluncuran kawasan ini, disertai undangan terbuka kepada pengusaha lokal untuk berpartisipasi aktif.
Namun, muncul kekhawatiran bahwa jika pelaku usaha lokal tidak segera merespons, kios-kios ini akan diisi oleh pengusaha dari luar. Hal ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan konflik baru. Maka dari itu, melalui acara tersebut, pemerintah desa menghimbau seluruh pelaku UMKM lokal untuk terlibat aktif dan memanfaatkan peluang yang ada.
Panggilan untuk Aksi Bersama
Berbagai pihak diharapkan mengambil peran aktif demi keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan :
1. Pemerintah Daerah: Bupati Halmahera Selatan diharapkan melakukan intervensi langsung, termasuk penegakan aturan bagi pelaku pencemaran lingkungan dan penyediaan fasilitas pengolahan limbah serta program edukasi kebersihan.
2. Perusahaan Tambang: PT Harita Nickel didorong memperluas cakupan program CSR dengan pelatihan pengelolaan sampah, pemahaman cinta lingkungan kepada keluarga pekerja, serta pembersihan kawasan pesisir.
3. Partisipasi Warga:Pembentukan kelompok kerja bersih pantai dan kampanye anti-sampah plastik menjadi langkah penting yang perlu di dukung oleh seluruh lapisan masyarakat—baik penduduk lama maupun pendatang.
Refleksi Desa Kawasi mencerminkan dinamika Indonesia : kaya sumber daya, berkembang pesat, namun masih menghadapi tantangan sosial dan ekologis. Jika pembangunan tidak berjalan selaras dengan pendidikan lingkungan dan pemerataan sosial, maka kemilau lampu industri suatu hari bisa menjadi saksi bisu dari krisis yang tak dapat dipulihkan.
#FADULI








