Fadulinews_25/06/2025,Halmahera Barat — Di tengah geliat pembangunan dan program bantuan sosial yang terus digulirkan pemerintah, ada suara-suara kecil dari kampung yang kadang luput dari perhatian. Salah satunya datang dari Arya Saleh, pemuda 24 tahun asal Desa Sidangoli Gam, RT 04, Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.
Arya, lulusan SMA yang kini bekerja serabutan di kampungnya, mengaku pernah merasakan secercah bantuan pemerintah saat masih duduk di bangku kelas dua SMA. “Waktu itu saya dapat bantuan 600 ribu. Uangnya saya pakai untuk beli kebutuhan sekolah dan bantu keluarga,” ujarnya dengan lirih.
Namun, sejak saat itu, tak pernah lagi ia merasakan uluran tangan dari program sosial pemerintah. Padahal, kondisi ekonomi keluarga Arya tidak banyak berubah. “Saya tidak pernah tahu kenapa bantuannya berhenti. Kami juga tidak tahu harus tanya ke siapa,” katanya.
Di usianya yang menginjak dewasa, Arya memilih tetap tinggal di kampung. Ia ingin membangun hidup di tanah kelahirannya, bukan merantau ke kota. Tapi ia berharap ada perhatian nyata dari pemerintah daerah, khususnya Bupati Kabupaten Halmahera Barat, yang menjadi kunci koordinasi lintas OPD untuk urusan sosial dan kesejahteraan rakyat.
Mengetuk Pintu Hati Pemda Suara Arya bukan sekadar cerita pribadi. Ini adalah gambaran dari banyak anak muda di kampung-kampung yang merasa tak lagi terjangkau oleh program bantuan. Dalam konteks perencanaan dan penganggaran daerah, hal ini menjadi penting untuk dievaluasi.
Apakah data penerima bantuan sudah benar-benar akurat dan terbarui? Apakah ada mekanisme pengaduan yang mudah diakses oleh warga desa terpencil? Apakah koordinasi antara dinas sosial, kecamatan, dan pemerintah desa sudah berjalan efektif?
Kisah Arya seharusnya menjadi cermin. Bahwa keadilan sosial bukan hanya soal siapa yang paling miskin, tetapi siapa yang paling membutuhkan dan belum mendapat perhatian.
Harapan: Bukan untuk Dikasihani, Tapi Didengar Arya tak ingin dikasihani. Ia hanya ingin didengar. Bahwa di Sidangoli Gam, ada anak-anak muda yang masih percaya pada pemerintah, yang masih menggantungkan harapan pada nama-nama yang tertera dalam struktur birokrasi—termasuk Sekda sebagai koordinator pengelola anggaran dan kebijakan daerah.
“Kami cuma ingin tahu, apa kami masih terdata? Apa kami masih diperhitungkan?” ucap Arya.
Sebuah pertanyaan sederhana, namun bernilai besar, jika dijawab dengan hati nurani.
Reporter: OMFaduli
Editor: Redaksi








