Santriwati Dicabuli, PII Kalbar Tuntut Bersih-Bersih Pesantren!

Spread the love

FaduliNews_Kubu Raya, Kalbar — minggu/21/06/2025 Dunia pendidikan kembali dibuat geram. Seorang pengasuh pondok pesantren di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, berinisial NK (40), ditangkap polisi setelah dilaporkan mencabuli tiga santriwati di bawah umur. Pelaku kini ditahan, namun gelombang amarah masyarakat belum reda, terutama dari Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Kalimantan Barat yang bersuara lantang mendesak evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan berbasis agama.

Ketua Umum PW PII Kalbar, Reski Legianto, menyebut kasus ini sebagai tamparan keras bagi dunia pesantren. Ia mengecam keras tindakan pelaku dan meminta aparat penegak hukum tidak memberi celah kompromi. “Ini bukan sekadar kejahatan seksual, ini pengkhianatan terhadap kepercayaan umat. Hukum seberat-beratnya, jangan beri ruang berlindung di balik simbol keagamaan!” tegasnya.

banner 336x280

Kasus ini mencuat usai laporan orang tua salah satu korban diterima polisi pada 5 Juni 2025. Unit PPA Polres Kubu Raya bergerak cepat hingga akhirnya NK diamankan pada 13 Juni. Dari hasil penyelidikan awal, tiga korban telah teridentifikasi. Namun, aparat menduga jumlah korban bisa bertambah. “Kami terus membuka ruang bagi korban lainnya untuk bersuara,” ungkap Aiptu Ade dari Polres Kubu Raya.

Lebih menyayat, salah satu korban mengaku menjadi sasaran pencabulan hampir setiap dua hari dan diancam agar tidak berbicara. Trauma mendalam yang dipendamnya akhirnya diungkap kepada sang ayah. “Anak saya akhirnya jujur karena tak tahan. Saya hanya orang kecil, tapi saya ingin pelaku dihukum setimpal,” ucap ND, ayah korban, dengan suara bergetar.

Merespons kasus ini, PII Kalbar mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera melakukan audit dan pengawasan ketat terhadap seluruh pesantren, terutama yang menyangkut perlindungan anak. Mereka juga menuntut agar regulasi perlindungan santri diperkuat. “Pesantren harus jadi tempat suci, bukan tempat predator menyamar,” ujar Reski.

PII Kalbar juga menyerukan masyarakat untuk tidak bungkam. Mereka mengajak semua elemen, termasuk media dan tokoh agama, untuk terus mengawal kasus ini sampai pelaku dihukum maksimal. “Jika kita diam, kita bagian dari masalah. Ini saatnya bersihkan pendidikan dari mereka yang menyalahgunakan agama untuk merusak masa depan anak-anak kita,” tutup Reski.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *