Harita Nickel Konsisten Jalankan CSR: Dari Pendidikan, Ekonomi, hingga Dukungan Sosial Keagamaan

Spread the love

Opini | Oleh:Omfaduli

FaduliNews_Pulau Obi, Maluku Utara – Di tengah tudingan  yang menyebut Harita Nickel abai dalam pengelolaan Corporate Social Responsibility (CSR), fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Sejak bertahun-tahun lalu, Harita Nickel secara konsisten melaksanakan berbagai program CSR yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.Bukan hanya dalam bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan UMKM, infrastruktur, dan pelestarian budaya lokal, Harita juga senantiasa hadir dalam kegiatan sosial-keagamaan. Setiap momentum besar, seperti puasa,lebaran Idul fitri/Adha, Natal, tahun baru serta berbagai kegiatan kepemudaan merayakan 17 Agustus dan organisasi masyarakat, selalu mendapat dukungan perusahaan. Pola dukungan ini bukan sekali dua kali, melainkan berulang dari tahun ke tahun sebagai wujud komitmen jangka panjang.

Tak mengherankan bila Harita Nickel menerima sejumlah penghargaan nasional, termasuk Indonesia CSR Award 2025 dan Pembangunan Desa Berkelanjutan Awards 2024, karena konsistensi mereka dalam menjalankan program yang berkelanjutan.

Ecovillage Kawasi: Kemajuan yang Tak Terbantahkan

Salah satu bukti konkret implementasi CSR adalah pembangunan Ecovillage di Desa Kawasi, Pulau Obi. Hunian baru yang tertata modern, bersih, sehat, dan manusiawi ini menjadi simbol komitmen Harita Nickel bersama Pemerintah Desa Kawasi dalam menghadirkan wajah baru pembangunan desa.

Ecovillage tidak hanya menyediakan rumah layak huni, tetapi juga membuka ruang usaha baru, peluang UMKM, serta lingkungan sosial yang lebih sehat. Harita Nickel membuktikan bahwa pembangunan fisik selalu diiringi dengan penguatan aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Realitas Kampung Lama: Tantangan Sosial yang Harus Dijawab Namun, di balik keberhasilan ini masih ada tantangan. Sebagian warga memilih bertahan di kampung lama, bukan karena menolak kemajuan, melainkan karena rasa keterikatan emosional pada ruang hidup yang sudah lama mereka kenal. Sayangnya, kondisi kampung lama semakin tidak layak: sanitasi buruk, sampah menumpuk, hingga ancaman penyakit yang terus mengintai.

Bertahan di ruang lama tanpa pembenahan bukanlah pilihan produktif. Justru hal ini bisa menurunkan kualitas hidup warga sendiri. Karena itu, perpindahan ke Ecovillage bukan sekadar relokasi, melainkan langkah menuju masa depan yang lebih sehat dan bermartabat.
Pemerintah, Perusahaan, dan Masyarakat: Tanggung Jawab Bersama Tugas pemerintah dan perusahaan tidak berhenti pada pembangunan rumah. Pendekatan persuasif, transparansi, dan pendampingan pasca-pindah harus terus dijalankan. Relokasi tidak boleh dipahami warga sebagai “pembuangan”, melainkan pengangkatan martabat hidup ke level yang lebih baik.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta. Rumah sehat, fasilitas sosial, dan ruang usaha yang sudah dibangun tidak boleh dibiarkan kosong. Anak-anak Kawasi berhak tumbuh di lingkungan sehat, dan orang tua berkewajiban mengambil langkah untuk mewujudkannya.

Penutup: Bukti Lebih Kuat dari Tuduhan
Harita Nickel dengan jelas telah menunjukkan konsistensinya dalam menjalankan CSR.

Dari pembangunan infrastruktur, dukungan pendidikan dan kesehatan, penguatan ekonomi lokal, hingga kepedulian pada kegiatan keagamaan dan kepemudaan—semua itu adalah fakta yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat Obi dan Maluku Utara.

Maka tuduhan bahwa Harita tidak serius mengelola CSR sama sekali tidak berdasar. Ecopvillage Kawasi menjadi contoh bahwa pembangunan bukan hanya soal gedung, tetapi juga tentang harapan, kesadaran, dan martabat bersama.

Desa Kawasi kini punya peluang besar menjadi model pembangunan berkelanjutan di Indonesia Timur