Kisah tragis ini seakan menampar kesadaran kita. Betapa rapuhnya benteng moral generasi muda ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat abai menjaga. Yang lebih menyedihkan, korban maupun pelaku masih sama-sama belia. Mereka seharusnya duduk di kelas belajar tentang teknologi, masa depan, dan mimpi; bukan saling tikam di jalan dengan sebilah pisau. Pertanyaan ini harus dijawab dengan jujur oleh kita semua. Apakah orang tua hari ini terlalu sibuk mencari nafkah hingga lupa mendengarkan keluh kesah anaknya? Apakah sekolah hanya sibuk menjejali teori tanpa memberi ruang bagi pendidikan karakter? Apakah lingkungan kita kini lebih sering memberi tontonan kebencian daripada teladan kasih sayang?
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang yang aman, sekolah tidak lagi menjadi ruang belajar yang menenangkan, dan lingkungan berubah menjadi arena saling cemooh, maka anak-anak akan mencari jalannya sendiri. Celakanya, jalan itu sering kali salah: geng motor, minuman keras, tawuran, hingga kriminalitas.
Inilah alarm keras bagi orang tua dan guru. Anak-anak bukan sekadar butuh uang saku, nilai rapor, atau gadget. Mereka butuh mata yang memperhatikan, telinga yang mendengar, dan hati yang merangkul.
Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran. Guru adalah orang tua kedua yang setiap hari menyaksikan anak-anak tumbuh. Namun sering kali sekolah terjebak hanya pada angka ujian, sementara perilaku anak-anak dibiarkan liar tanpa arahan.
Sudah saatnya sekolah memperkuat pengawasan. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar jam sekolah tanpa tujuan. Adakan dialog rutin tentang bahaya kekerasan, tentang cara menyelesaikan masalah tanpa pisau, tanpa pukul, tanpa caci maki. Bawa mereka mengenal nilai kearifan lokal Maluku – pela gandong, hidup orang basudara – bukan hanya lewat upacara, tapi lewat teladan sehari-hari.
Di rumah, orang tua harus kembali hadir bukan sekadar sebagai pemberi makan, tetapi sebagai pelindung jiwa. Anak-anak tidak butuh rumah mewah kalau di dalamnya sunyi dari perhatian. Mereka tidak butuh uang berlimpah jika tak ada yang mau mendengar ceritanya.
Sediakan waktu untuk bertanya: “Nak, bagaimana harimu di sekolah?” Tanyakan siapa temannya, apa yang ia khawatirkan, apa mimpinya. Kadang satu pelukan hangat lebih kuat daripada seribu nasihat. Jangan tunggu anak kita belajar kasih sayang dari jalanan atau media sosial.
Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya gotong royong menjaga kampung. Pos kamling harus kembali hidup, bukan sekadar papan nama yang berdebu. Pemerintah kota dan kabupaten tidak boleh berpangku tangan – rumah yang rusak, harta benda yang hilang, dan trauma yang tertinggal adalah tanggung jawab bersama.
Aparat keamanan juga harus hadir bukan hanya ketika bentrokan pecah, tetapi hadir mencegah: patroli rutin, pendekatan humanis ke anak-anak sekolah, serta merangkul pemuda dalam kegiatan positif.
Kita di Maluku punya ingatan pahit tentang konflik masa lalu. Luka itu belum sepenuhnya sembuh. Jangan biarkan bara kecil seperti kasus ini membesar menjadi api. Jangan biarkan satu nyawa remaja yang hilang memicu kebencian baru di antara kampung-kampung.
Om Faduli mengingatkan: jangan cepat percaya video dan pesan berantai di media sosial. Saring sebelum sharing. Karena satu berita palsu bisa membakar emosi, dan api itu bisa menghanguskan kedamaian seluruh Maluku.
Tragedi ini harus menjadi titik balik. Kita harus kembali pada jati diri orang Maluku: pela gandong, hidop orang basudara. Kita harus kembali mengajarkan anak-anak bahwa perbedaan bukan alasan untuk bertikai, melainkan kekayaan yang harus dijaga.
Anak-anak kita adalah masa depan kita. Jangan biarkan mereka tumbuh dalam kebencian. Mari kita ajarkan tentang cinta, persaudaraan, dan damai. Karena Maluku terlalu indah untuk terus diselimuti api konflik.
Satu nyawa telah melayang, satu masa depan telah hancur rumah terbakar Jangan biarkan ada lagi korban berikutnya. Saatnya orang tua, guru, dan kita semua bangkit menjaga anak-anak kita. Karena menjaga mereka berarti menjaga masa depan Maluku.**
Mengapa Anak Kita Mudah Terseret Kekerasan?
Sekolah Harus Kembali Menjadi Rumah Kedua
Orang Tua, Jadilah Pelindung, Bukan Sekadar Penyedia Nafkah
Masyarakat dan Pemerintah Tidak Boleh Diam
Jangan Lupakan Luka Sejarah Maluku
Menutup Luka dengan Cinta
Ambon Memanas, Saatnya Orang Tua dan Guru Bangkit Menjaga Anak-Anak Kita
Opini_oleh :OmFaduli
FaduliNews_Ambon kembali berduka. Selasa (19/8/2025) menjadi catatan kelam ketika bentrokan antarwarga Desa Hunut Durian Patah dan Desa Hitu pecah, meninggalkan luka mendalam bagi kita semua. Seorang siswa SMK Negeri 3 Ambon, Abdal P, meregang nyawa akibat tikaman, sementara pelaku – yang juga masih remaja – kini kehilangan masa depan.








