Warisan Proyek 2014–2015 Dibiarkan Rapuh, 7 Jembatan Kritis di Maba Utara Terancam Makan Korban

Spread the love

Faduli1.com – Senin, 23 Februari 2026, pukul 16.00 WIT, Tim Faduli1.com menerima dan menelusuri laporan warga terkait kondisi jembatan di Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, yang sudah tidak layak dilalui.

Jembatan-jembatan tersebut berada di jalur utama dari Desa Wasileo menuju Trans SP 4 dan seterusnya. Akses vital ini masih menggunakan konstruksi kayu yang kini rapuh, berlubang, dan membahayakan pengendara, terutama pada malam hari.

Fakta Investigasi: Proyek Kementerian 2014–2015

Berdasarkan informasi yang dikantongi Tim Investigasi F1, jembatan-jembatan itu merupakan proyek dari Kementerian Transmigrasi pada tahun anggaran 2014–2015. Artinya, infrastruktur tersebut sudah berusia lebih dari satu dekade.

Namun hingga kini, belum terlihat adanya perubahan signifikan atau pembangunan ulang secara permanen oleh pemerintah daerah. Perbaikan yang ada hanya sebatas tambal sulam papan kayu—bahkan sebagian besar dilakukan swadaya oleh masyarakat melalui kerja bakti.

“Kalau malam hari itu sangat berbahaya. Apalagi papan sudah banyak yang lapuk. Kami hanya bisa hati-hati, tapi sampai kapan?” ungkap warga.

7 dari 10 Jembatan Dalam Kondisi Tidak Layak

Dari sekitar 10 jembatan di jalur Wasileo–Trans SP 4:

7 jembatan dalam kondisi tidak layak

2 jembatan masih relatif layak

1 jembatan sedang dalam perbaikan, setelah sebelumnya hanyut terbawa banjir dan baru ditindaklanjuti

Kondisi ini jelas bukan persoalan kecil. Jalur tersebut adalah urat nadi mobilitas warga—dari aktivitas ekonomi hingga akses layanan publik.

DPRD Diminta “Buka Mata Hati”

Masyarakat berharap anggota DPRD dari daerah pemilihan setempat dapat membuka mata dan hati untuk memperjuangkan perbaikan infrastruktur ini secara serius.

Pantauan faduli bukan hanya jembatan namun ada jalan yang berlubang,yang sangat berbahaya untuk di lewati para pengendara  roda dua.

“Jangan hanya fokus tambang saja. Keselamatan warga Halmahera Timur juga harus diperhatikan,” tegas salah satu warga.

Pernyataan itu menjadi tamparan keras di tengah geliat investasi dan eksploitasi sumber daya alam di Halmahera Timur. Pembangunan tidak boleh timpang. Di satu sisi tambang berkembang, di sisi lain jembatan penghubung antar desa justru dibiarkan rapuh.

Jangan Tunggu Korban

Jika benar proyek tersebut dibangun pada 2014–2015, maka sudah saatnya dilakukan evaluasi total dan pembangunan ulang berbahan permanen seperti beton atau baja.

Pemerintah daerah tidak bisa terus berdalih pada keterbatasan anggaran sementara risiko keselamatan masyarakat nyata di depan mata. Jangan sampai perhatian baru muncul setelah ada korban.

Faduli1.com akan terus mengawal persoalan ini sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap keselamatan publik di Maba Utara dan Halmahera Timur secara umum.

Reporter: Ahmad.K
Editor: Faduli1.com