Oleh: OmFaduli
FaduliNews_Penyelundupan 600 liter minyak tanah bersubsidi yang terbongkar dini hari di Pelabuhan Ferry Sofifi bukan pelanggaran biasa. Ini adalah tamparan keras bagi seluruh struktur pengawasan negara: mulai dari pangkalan BBM yang menjual ke pengepul, petugas di Pelabuhan Bastiong yang membiarkan kendaraan masuk tanpa pemeriksaan ketat, hingga penerima barang di kawasan industri.
Karena satu hal yang tidak dapat dibantah:
Mobil PT GIB tidak mungkin lolos dari Pelabuhan Bastiong lalu menyeberang ke Sofifi jika pengawasan benar-benar bekerja.
Di Bastiong ada TNI, Polri, Dishub, KSOP, petugas Lanal, dan aparat pendukung lain. Setiap kendaraan yang masuk kapal ferry penumpang wajib diawasi ketat, apalagi yang terlihat membawa logistik campur-aduk.
Namun apa yang terjadi?600 liter BBM subsidi dalam jeriken bisa melintas dengan mulus dari Bastiong menuju Sofifi.
Ini bukan kelalaian kecil — ini kegagalan serius.Akar Masalah Pangkalan Nakal Harus Dicabut Izinnya
Pengakuan pemilik mobil jelas:“Saya kumpul tiga minggu… beli dari warung-warung di Tanah Masjid. Sembilan orang yang jual.”
Itu artinya jaringan penimbunan sudah berjalan lama.Pangkalan atau warung-warung yang menjual minyak tanah subsidi ke pengepul adalah sumber kebocoran pertama.
Kalau sumber pertama dibiarkan bocor, ribuan liter akan terus hilang tanpa jejak.Maka tuntutan publik sangat jelas segera Cabut izin pangkalan yang terlibat. Jangan sekadar peringatan. Tutup permanen.Karena mereka tidak hanya melanggar hukum ,mereka mencuri hak rakyat. Jalur Bastiong–Sofifi bocor dan pengawasan lemah di depan mata
Fakta paling memalukan dalam kasus ini adalah:BBM bersubsidi bisa masuk ke kapal ferry penumpang dari Bastiong, disamarkan dengan logistik, kemudian tiba di Sofifi tanpa hambatan dan Ini sangat membahayakan:melanggar UU Pelayaran,melanggar aturan barang berbahaya,berpotensi memicu kebakaran,dan mengancam ratusan nyawa di dalam kapal.
Pertanyaannya:Bagaimana jeriken-jeriken ini bisa lolos dari Bastiong?Lalu bagaimana bisa tiba di Sofifi tanpa terdeteksi?
Ada petugas di lapangan.
Ada pemeriksaan kendaraan.
Ada aturan jelas soal barang berbahaya.
Tapi hasilnya? Tembus Bersih. Tanpa hambatan Ini menunjukkan pengawasan lemah—pengawasan rusak,dan jika ini dibiarkan, maka penyelundupan bukan lagi kejahatan,tapi operasi rutin yang lewat setiap hari. Jangan Berhenti di Sopir: Periksa Semua Mata Rantainya Sopir boleh saja mengaku hanya mekanik panggilan,Tapi negara tidak boleh tertipu oleh pengakuan satu orang.Kasus ini harus menjerat:pangkalan atau warung yang menjual minyak tanah subsidi,pengepul yang mengumpulkan BBM,oknum pelabuhan Bastiong yang lalai atau di duga bekerja sama,oknum pelabuhan Sofifi yang tidak melakukan pemeriksaan,pemilik mobil,serta penerima logistik yang nanti di bawa ke kawasan industri.
Kalau hanya sopir yang ditahan,
itu hanya buang waktu dan menghibur publik dengan hasil kosong.
IWIP Juga Harus Bicara,Pemilik mobil mengaku logistik dalam kendaraan adalah barang konsumsi untuk kantin-kantin IWIP di Kobe.Pertanyaan publik Kalau logistik masuk resmi, bagaimana BBM subsidi bisa ikut menumpang?
Apakah ada oknum yang bermain?Apakah perusahaan tahu atau pura-pura tidak tahu?
IWIP wajib menjelaskan alur masuk logistik mereka.Ketika nama perusahaan masuk dalam rantai distribusi, publik berhak tahu. Negara Kalah Jika jalur Bastiong Tetap Bocor dan Pangkalan Nakal Tidak Ditertibkan
Kasus ini bukan sekadar 600 liter minyak tanah.Ini simbol betapa lemahnya negara mengawal hak rakyat.
Kalau jalur Bastiong–Sofifi tetap longgar,
kalau petugas tidak dievaluasi,
kalau warung dan pangkalan nakal tidak ditutup,kalau industri dibiarkan menerima BBM rakyat,maka negara benar-benar kalah oleh mafia kecil di lapangan.Dan saya menulis ini bukan untuk mencari sensasi.Saya menulis karena suara rakyat kecil tidak punya corong lain.“BBM subsidi untuk rakyat, bukan untuk industri. Bukan untuk mafia logistik.”
Maka tuntutan kami jelas:Cabut izin pangkalan nakal,Evaluasi aparat Bastiong dan Sofifi.Bongkar seluruh jaringan dari bawah sampai atas.
Sebelum minyak rakyat terus dicuri tanpa ada yang bisa menghentikan.
(Redaksi)
