Opini: Menimbang Arah Politik Ternate Menjelang 2029

Spread the love

Oleh: Om Faduli

FaduliNews_Peta politik Kota Ternate mulai menghangat jauh sebelum memasuki tahun 2029. Nama-nama figur potensial perlahan bermunculan, gerakan kecil di panggung publik semakin terbaca, dan kabar angin tentang siapa yang akan maju kian ramai diperbincangkan. Dalam ruang politik lokal yang sarat dinamika ini, setidaknya ada tiga poros kekuatan yang menarik untuk dicermati. (Kamis/04/09/2025)

Rizal Marsaoly dan Jaringan Keluarga Tidore

Sosok yang paling banyak disorot saat ini adalah Sekretaris Kota Ternate, Rizal Marsaoly. Gerakan politiknya tidak lagi samar; setiap langkah dalam acara pemerintahan maupun kegiatan sosial kian menegaskan bahwa ia tengah menyiapkan diri menuju Pilwako 2029.

Modal utama Rizal bukan hanya pengalaman panjang dalam birokrasi, melainkan juga jaringan keluarga besar Tidore yang berdomisili di berbagai kelurahan di Kota Ternate. Jaringan ini menjadi basis sosial yang solid dan diyakini akan memberikan dukungan riil dalam kontestasi. Ditambah dengan karakter pribadinya yang dikenal memiliki mental petarung, Rizal dipandang sebagai figur yang siap menghadapi kompetisi politik seketat apa pun.

Selain itu, Rizal juga memiliki kedekatan emosional dengan lingkaran pemerintahan hari ini. Ia adalah adik dari Merlisa Marsaoly, yang tak lain merupakan istri Wali Kota Ternate, Tahuid Soleman. Hubungan kekerabatan ini, menurut sejumlah pengamat, tentu bisa berimplikasi pada arah dukungan politik. Sulit dibayangkan seorang wali kota yang masih aktif akan mengabaikan ikatan keluarga, sementara yang maju adalah adik iparnya sendiri. Walaupun hal ini masih berupa asumsi politik, publik menilai bahwa faktor emosional ini bisa menjadi salah satu kekuatan tambahan bagi Rizal dalam peta menuju 2029.

Nasri Abubakar: Politisi, Pengusaha, dan Wakil Wali Kota

Di sisi lain, pria yang biasa disapa ko nas, Wakil Wali Kota Ternate, hampir pasti akan menjadi rival terkuat. Nasri Abubakar bukan hanya menjabat di pemerintahan, tetapi juga pengurus Partai Demokrat sekaligus pengusaha dengan dukungan finansial yang relatif mapan. Kombinasi jabatan, kekuatan partai, dan modal ekonomi menjadikannya lawan yang serius.

Jika benar maju di 2029, pertarungan Nasri Abubakar melawan Rizal akan menjadi duel menarik: dua figur dari lingkaran pemerintahan yang sama, sama-sama berakar pada keluarga besar (Tidore Tomalou)  tetapi membawa basis kekuatan yang berbeda.

Figur Muda: Koko dan Gifar Bopeng

Yang tak kalah menarik adalah isu kemunculan poros figur muda. Kabar yang beredar menyebut bahwa Koko, anak Gubernur Maluku Utara Sherly, tengah diproyeksikan maju berpasangan dengan Gifar Bopeng, anggota DPRD Kota Ternate dari Fraksi NasDem.

Jika isu ini benar, pasangan Koko–Gifar bisa menjadi kuda hitam dalam Pilwako 2029. Koko membawa pengaruh dan kekuatan politik ibunya sebagai gubernur, sementara Gifar merepresentasikan generasi muda politisi dengan basis elektoral yang nyata di parlemen kota. Kombinasi ini akan menciptakan warna baru: kolaborasi antara dinasti politik dan figur muda legislatif.

Menanti Kepastian, Menjaga Kesejukan

Meski semua masih sebatas isu, publik tentu menaruh perhatian besar pada dinamika ini. Politik memang sering penuh kabar angin, tetapi di balik isu tersebut selalu ada pesan yang perlu dibaca: arah politik Kota Ternate ke depan sedang dipertaruhkan.

Dalam situasi ini, yang dibutuhkan adalah kesejukan. Kompetisi politik memang tak bisa dihindari, tetapi hendaknya dijalani dengan gagasan, visi, dan rekam jejak, bukan sekadar mengandalkan kekuatan keluarga atau finansial.


Penutup

Pada akhirnya, baik Rizal Marsaoly dengan jaringan keluarga Tidore dan aktif dalam Beberapa organisasi,salah satu tokoh terbaik kota ternate berdarah Tidore ini memiliki hubungan   emosionalnya dengan Wali Kota Tahuid Soleman melalui kakaknya Merlisa Marsaoly,dan Nasri Abubakar dengan Demokrat dan modal usahanya, maupun Koko–Gifar dengan kombinasi dinasti dan figur muda legislatif, semuanya punya peluang masing-masing.

Sebagai generasi Muda, OmFaduli hanya bisa menyebut semua ini sebagai bagian dari proses demokrasi yang wajar. Bahwa ada ambisi, ada strategi, ada isu, bahkan ada “ramalan semu” yang mungkin tak terbukti—itu semua adalah bumbu dari politik lokal.

Dan bagi Rizal Marsaoly khususnya, jika benar isu Koko–Gifar ini berkembang menjadi kenyataan, maka sejak sekarang ia harus mendekat ke petinggi partai-partai besar, membangun koalisi, dan merawat kepercayaan publik. Sebab, dalam politik, kemenangan bukan hanya soal siapa yang paling ambisius, tetapi siapa yang paling mampu merawat jaringan sekaligus menjaga hati rakyat.

(FaduliNews – Opini Om Faduli)