“Oemar Gatab: Jejak Sang Bapak Intelijen Polri dan Lahirnya 80 Tahun Intelkam”

Spread the love

Faduli1.com – Di balik kokohnya keamanan negara, selalu ada figur-figur senyap yang bekerja tanpa tepuk tangan. Salah satu yang paling berpengaruh, namun jarang tampil di hadapan publik, adalah Raden Mas Muhammad Oemar Gatab—perwira visioner yang dikenang sebagai Bapak Intelijen Kepolisian Indonesia.

Kiprah Oemar Gatab adalah potret perjalanan bangsa yang penuh gejolak. Menjelang peringatan 80 Tahun Intelijen Keamanan (Intelkam) Polri, rekam perjuangan dan integritasnya kembali mengisi ruang-ruang sejarah kepolisian.

Sejarah intelijen nasional tidak pernah benar-benar lepas dari turbulensi politik. Meski sempat muncul arsip yang menuding keterkaitannya dengan masa kolonial, sejarah membuktikan bahwa Oemar Gatab adalah polisi sejati. Ia teguh memegang sumpah pengabdian: mengawal ketertiban masyarakat dalam situasi apa pun, dengan loyalitas pada negara, bukan pada rezim.

Pionir Pengawasan Modern

Tahun 1948 menjadi salah satu fase penting ketika ibu kota dipindahkan ke Yogyakarta. Di masa genting itu, Oemar menduduki posisi strategis sebagai Kepala Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM). Lembaga ini dibentuk sebagai tandingan dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID) Belanda yang represif.

Di tangan Oemar, pamit dari cara-cara kolonial, PAM hadir dengan pendekatan humanis: membaca potensi konflik, melakukan mitigasi, dan membangun simbiosis intelijen–masyarakat.

Insting tajamnya membuat ia lebih awal mencium ketegangan antara kelompok kiri dan kanan sebelum meledaknya Peristiwa Madiun 1948. Ia juga berada di garis depan meredam gerakan separatis seperti APRA pimpinan Westerling—membentengi NKRI yang masih sangat muda.

Perjalanan kelembagaan intelijen kepolisian terus berkembang:

1951 – PAM bertransformasi menjadi Dinas Pengawasan Keselamatan Negara (DPKN).

1958 – Oemar menjadi unsur kepolisian di Badan Koordinasi Intelijen (BKI).

Era ABRI – 2002 – Lembaga ini berevolusi dari Korps Polisi Security, Korps Intelijen, hingga melahirkan Baintelkam Polri.

Kisah Unik di Balik Patung Gajah Mada

Dibalik ketegasannya, Oemar Gatab memiliki sisi humoris yang jarang diketahui publik. Salah satu kisah paling ikonik adalah ketika ia ditugaskan mencari model patung Gajah Mada untuk dipasang di depan Mabes Polri.

Minimnya sumber visual membuat Oemar memilih jalan kreatif: ia diam-diam menjadikan foto Muhammad Jasin, Komandan Brimob kala itu, sebagai referensi. Patung yang kita lihat hingga hari ini sejatinya adalah wajah Jasin—fakta yang baru diungkapnya setelah peresmian pada 1 Juli 1959.

Warisan dan Generasi yang Melanjutkan

Oemar Gatab wafat pada 20 Maret 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sikap tegas dan disiplinnya diwarisi oleh putra tunggalnya, Indrodjojo Kusumonegoro (Indro Warkop).

“Bapak gua pendiri intel di Indonesia, Dinas Pengawasan Keselamatan Negara yang akhirnya dipegang Angkatan Darat jadi BIN,” ujar Indro dalam sebuah kesempatan.

Mengapa 2 Januari Menjadi Hari Intelijen?

Penetapan Hari Intelijen berakar pada operasi senyap 2 Januari 1946, ketika intelijen berhasil mengawal perpindahan Presiden dan Wakil Presiden dari Jakarta menuju Yogyakarta di tengah ancaman agresi militer Belanda.

Kini, memasuki usia ke-80, warisan Oemar Gatab terus hidup dalam semboyan:
“Indra Waspada, Negara Raharja.”

Intelkam tetap menjadi mata dan telinga negara—bekerja dalam hening, menjaga republik tanpa pamrih.

Selamat Hari Jadi ke-80 Intelkam Polri.

Satya Haprabu. Jaya selalu Kepolisian Republik Indonesia.

(Tim/Red)