“Ikram Sangadji dan Tugu Brimob: Membalas Doa Ayah Lewat Monumen Sejarah”

Spread the love

Oleh: RedFN

Weda, 4 Agustus 2025

FaduliNews_Langit Weda tampak cerah saat deretan kendaraan dinas melaju pelan menjemput tamu penting. Di barisan depan, berdiri tegap Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji. Mengenakan seragam dinas, sorot matanya tegas namun penuh haru. Hari itu, Senin (4/8), ia menjemput Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si., untuk satu agenda penting: Peletakan Batu Pertama Tugu Brimob di Taman Bukit Loiteglas, Weda.

Namun ini bukan sekadar prosesi kenegaraan. Bagi Ikram Sangadji, momen ini seperti membuka kembali lembaran sejarah pribadi yang tertulis dalam darah dan ingatan.

Anak Seorang Pelopor
Tak banyak yang tahu bahwa Bupati Halteng ini adalah putra dari seorang anggota Brimob, pejuang Pelopor di masa awal republik. Darah kepolisian dan pengabdian mengalir dalam tubuhnya. Maka saat gagasan membangun Tugu Brimob muncul, ia tak ragu menjadikannya prioritas pembangunan.

Ketika Kapolda turun dari kendaraan, keduanya saling menyapa hangat. Ada ketegasan militer di satu sisi, dan penghormatan personal di sisi lain. Bagi Kapolda, sambutan itu bukan sekadar protokoler. Ia tahu bahwa yang menyambutnya bukan sekadar kepala daerah, melainkan anak dari seorang pahlawan tak bernama—sosok yang mewakili ratusan prajurit Brimob yang pernah berjuang dalam sunyi, tanpa tugu dan tanpa riwayat tertulis.

Menyatukan Sejarah dan Kepemimpinan
Prosesi menuju lokasi tugu di Bukit Loiteglas berlangsung khidmat. Di sana, di tanah yang dulunya sunyi dari ingatan sejarah nasional, batu pertama pun diletakkan. Saat Kapolda mengenakan baret merah Brimob dalam upacara itu, suasana menjadi emosional. “Ketika mendengar rencana pembangunan Tugu Brimob, seperti yang disampaikan Bapak Bupati, semangat saya begitu tergugah,” ungkap Kapolda.

Sementara itu, Bupati Ikram tak banyak berkata. Tapi kehadirannya sebagai inisiator, pendamping Kapolda, dan putra seorang Pelopor telah berkata lebih banyak daripada pidato panjang.

Pembangunan Tugu Brimob ini, baginya, adalah cara paling tulus menghormati ayahnya dan ribuan anggota Brimob lainnya yang tak pernah masuk buku sejarah. Ia menjadikan tanah Weda sebagai ruang monumental, bukan hanya untuk institusi Polri, tetapi juga bagi identitas lokal yang turut membentuk republik.

Antara Jejak Ayah dan Harapan Anak Bangsa
Dalam sejarah nasional, seringkali yang dikenang hanyalah tokoh-tokoh besar di pusat. Namun di Weda, hari itu, sejarah direbut kembali oleh seorang anak daerah. Ikram Sangadji tak hanya menjabat sebagai Bupati, tapi juga mewakili generasi yang ingin mengabadikan jejak orang tua mereka yang dahulu hanya disebut dalam bisik-bisik keluarga.

Kini, ia menyulap ruang sunyi itu menjadi tugu perjuangan, ruang edukasi, dan sekolah sejarah terbuka bagi generasi muda Halteng dan Maluku Utara.

Sebuah Jejak, Sebuah Janji
Ketika prosesi selesai dan para tamu meninggalkan lokasi, Ikram Sangadji tetap berdiri sejenak. Pandangannya lurus ke arah fondasi tugu yang baru saja diletakkan. Mungkin di sanalah ia membayangkan sosok sang ayah—berdiri tegak dalam barisan Pelopor, mengawal republik dalam diam, tak pernah menuntut tugu, tapi hari ini akhirnya diberi tempat dalam sejarah.

Ia tahu, pembangunan tugu ini bukan akhir. Tapi permulaan dari janji baru: bahwa sejarah tak akan lagi dikubur dalam kesunyian.

#OMFADULI