Gelombang Protes di Mamuya: Dugaan Intimidasi dan Rekrutmen Tidak Adil Picu Blokade Jalan

Spread the love

Mamuya kabupaten Halmahera utara, — Faduli.com,Gelombang protes warga Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, memuncak pada Senin, 22 Desember 2025.pukul:09-40 Wit_Ratusan warga turun ke jalan dan memblokade akses utama desa sebagai bentuk penolakan terhadap dugaan ketidakadilan rekrutmen tenaga kerja serta tindakan intimidasi yang diduga dilakukan oleh oknum PLN dan perusahaan MKP terhadap pekerja lokal.

Aksi ini merupakan puncak dari kekecewaan panjang masyarakat yang merasa hak mereka diabaikan di tanah sendiri. Meski desa Mamuya menjadi lokasi operasi perusahaan, akses terhadap lapangan kerja justru dirasakan sangat timpang dan tidak berpihak kepada warga lokal.

“Cukup sudah ketidakadilan ini,” tegas warga dalam pernyataan sikap mereka di lapangan.

Jalan Sempat Ditutup, Kini Sudah Dibuka — Warga Bersiap Bertemu Wakil Bupati

Akses jalan utama sebelumnya diblokir warga sebagai bentuk tekanan agar pihak terkait segera merespons tuntutan mereka. Namun warga tetap memberikan prioritas bagi kondisi darurat seperti pasien sakit atau ibu hamil.

Informasi terbaru yang diperoleh tim Faduli.com menyebutkan bahwa jalur tersebut kini telah kembali dibuka, menyusul rencana pertemuan resmi masyarakat dengan Wakil Bupati Halmahera Utara, H. Kasman, pada Selasa (23/12).

Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk membuka dialog yang selama ini dinilai tertutup dan tidak transparan.

Rekrutmen Tidak Transparan: “Kami Punya Desa, Tapi Jadi Penonton”

Salah satu akar kemarahan warga adalah dugaan bahwa PLN dan MKP lebih banyak merekrut tenaga kerja dari luar desa ketimbang masyarakat setempat. Situasi ini membuat warga merasa tersisih dan tidak dihargai.

“Kami punya anak muda, punya kemampuan. Tapi mereka lebih pilih orang luar. Jadi kami cuma jadi penonton di tanah sendiri,” ungkap seorang tokoh pemuda.

Asrul Diadi Suarakan Kekesalan Lewat Corong Sound System,dalam aksi tersebut, salah satu warga yang paling vokal adalah Asrul Diadi. Dengan memegang corong sound system di tengah kerumunan massa, Asrul menyampaikan kekesalannya terkait dugaan intimidasi dan ketidakadilan yang selama ini dirasakan masyarakat.

Suara lantangnya menggema di antara barisan warga, memantik semangat peserta aksi untuk tetap bersatu dalam memperjuangkan hak mereka.

“Asrul bukan hanya bicara, tapi menyuarakan rasa sakit yang selama ini kami pendam,” ujar seorang warga yang ikut dalam aksi tersebut.

Dugaan Intimidasi Memicu Ledakan Emosi Warga,Kemurkaan warga semakin memuncak setelah muncul dugaan intimidasi dari Kepala PLN Ternate terhadap beberapa pekerja lokal yang hendak menyampaikan aspirasi.

Beberapa pekerja mengaku diancam akan diberhentikan bila ikut aksi atau mempertanyakan proses rekrutmen.

“Kalau pemimpin pakai ancaman, itu bukan pemimpin. Itu penindasan,” teriak salah satu warga dalam aksi, disambut sorakan setuju masyarakat.

Tuntutan Warga: Tegas & Tidak Bisa Ditawar,Dalam aksinya, warga menyampaikan beberapa tuntutan utama:Hentikan segala bentuk intimidasi terhadap pekerja lokal,Prioritaskan masyarakat Mamuya dalam proses rekrutmen tenaga kerja,Evaluasi atau copot pejabat proyek yang diduga menjadi sumber masalah.

Lakukan dialog resmi dan transparan, bukan pertemuan sepihak dan libatkan pemerintah pusat, termasuk orang yang hanya kami percaya yaitu Presiden Prabowo dan Kementerian BUMN untuk bisa memberikan rasa keadilan.

Meskipun aksi mereda tapi sikap warga tetap tegas,Meski jalan telah dibuka, warga menegaskan bahwa aksi belum selesai. Pembukaan jalan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap proses dialog, namun bukan berarti tuntutan mereka mengendur.

“Ini bukan cuma soal pekerjaan. Ini soal harga diri masyarakat Mamuya,” ujar seorang tokoh adat.

Jika hasil pertemuan dengan Wakil Bupati H. Kasman dianggap tidak memuaskan, warga memastikan aksi lanjutan tidak tertutup kemungkinan.

Konfirmasi Masih Ditunggu,Tim Faduli.com masih berupaya menghubungi pihak MKP dan Kepala PLN yang memiliki kepentingan langsung dalam operasional di Desa Mamuya. Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada pernyataan resmi yang diberikan terkait dugaan intimidasi maupun kebijakan rekrutmen.

Tim Faduli.com akan terus mengawal dan menyampaikan setiap perkembangan baru begitu informasi resmi diterima.

Ketidakadilan Adalah Akar Konflik,Kasus Mamuya menjadi contoh nyata bagaimana ketidakadilan sistemik, apalagi disertai intimidasi, dapat memicu konflik sosial di akar rumput. Jika suara masyarakat tidak didengar dan keadilan tidak ditegakkan, gejolak bisa muncul di banyak tempat.

Faduli.com berkomitmen untuk terus mengawal perkembangan kasus ini.

(Tim/Red)