FaduliNews_Sejarah panjang birokrasi kita selalu dihantui satu penyakit kronis: titipan jabatan. Dari zaman kolonial, hingga era reformasi, praktik “siapa dekat dia dapat” sudah menjadi tradisi yang merusak. Akibatnya, ASN yang rajin bekerja sering terpinggirkan, sementara yang pandai menjilat atau membawa “surat sakti” justru melesat naik.(senin/26/08/2025)
Kini, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda seolah ingin memutus mata rantai itu. Ia bicara lantang: promosi ASN Malut tidak lagi ditentukan oleh relawan, partai politik, bahkan pejabat yang menitipkan nama. Semua akan disaring lewat sistem digital ASN dan manajemen talenta yang bekerja secara objektif.
Bagi saya, pernyataan ini adalah semacam “tamparan” bagi elite politik lokal yang selama ini masih bermental pedagang jabatan. Sherly memilih jalur yang lebih sulit tapi mulia: menegakkan meritokrasi di atas kepentingan politik.
Sistem kotak 1 sampai 9 yang diterapkan BKN memang terdengar teknis, tapi dampaknya sangat politis. ASN yang berada di kotak 8 dan 9 otomatis berhak dipromosikan karena kinerja mereka nyata, bukan karena punya sponsor politik. Inilah revolusi senyap di birokrasi Maluku Utara.
Apakah sistem ini akan mulus? Tentu tidak. Akan selalu ada perlawanan dari mereka yang selama ini nyaman dengan pola lama. Relawan yang merasa “berjasa” saat Pilkada, partai politik yang ingin menitip kader, bahkan pejabat yang ingin menyelamatkan kroni. Semua akan coba mencari celah. Tapi setidaknya, publik kini punya harapan bahwa pintu itu sedang ditutup rapat oleh seorang gubernur perempuan yang tidak main-main.
Di titik inilah, saya melihat Sherly sedang mempertaruhkan legitimasi moralnya. Jika konsisten, maka dalam dua atau tiga tahun ke depan kita akan melihat wajah baru birokrasi Malut: bersih, kompetitif, dan profesional. Jika tergoda untuk kompromi, maka seluruh pidato ini akan runtuh dan Sherly akan masuk daftar panjang gubernur yang hanya pandai bicara.
Namun hari ini, publik patut mengapresiasi langkah ini. Karena di negeri yang sudah terlalu lama disandera titipan jabatan, suara tegas Sherly Tjoanda adalah secercah cahaya: jabatan bukan hadiah politik, melainkan buah dari prestasi.
#OmFaduliPeduli
