Ecovillage Kawasi : Antara Kemajuan dan Kesadaran Sosial yang Harus Seiring Jalan

Spread the love

Opini | Oleh : Said Marsaoly

Desa Kawasi, di Pulau Obi, kini menjadi sorotan. Di satu sisi, kita melihat sebuah loncatan besar dalam pembangunan: berdirinya Ecovillage, hunian modern yang tertata, bersih, dan manusiawi. Di sisi lain, kita menyaksikan realitas kampung lama yang kian terpinggirkan oleh waktu, oleh kemajuan, dan oleh ketidakmampuan kolektif untuk segera berbenah.

Sebagai jurnalis, saya terpanggil untuk menyoroti ini bukan sekadar sebagai cerita sukses pembangunan, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang mendalam: mengapa perubahan yang sedemikian positif belum mampu sepenuhnya menarik seluruh masyarakat untuk terlibat?

Kemajuan yang Tak Terbantahkan

Ecovillage adalah gambaran nyata dari cita-cita permukiman masa depan: bersih, sehat, dan mendukung aktivitas ekonomi. Tidak hanya infrastruktur yang disiapkan, tapi juga kehidupan sosial yang lebih tertata, lingkungan spiritual yang rukun, bahkan potensi UMKM yang dibuka selebar-lebarnya. PT Harita Nickel dan Pemerintah Desa Kawasi patut diapresiasi atas inisiatif dan realisasinya.

Namun, seperti halnya semua pembangunan, dampak sosial dan psikologis tak bisa dikesampingkan. Ada warga yang masih bertahan di kampung lama. Mereka bukan semata menolak kemajuan, tapi bisa jadi menimbang rasa kehilangan terhadap ruang hidup yang telah mereka kenal sepanjang hayat.

Realitas Kampung Lama : Potret yang Mengkhawatirkan

Yang tak bisa dibantah adalah kondisi kampung lama yang makin jauh dari kata layak. Sanitasi buruk, tumpukan sampah, dan ancaman penyakit menjadi keseharian. Di sinilah perlu ditegaskan: bertahan bukanlah bentuk perlawanan yang produktif. Ini justru berpotensi memundurkan kualitas hidup masyarakat itu sendiri.

Mereka yang masih ragu, sejatinya sedang menunda masa depan yang lebih baik. Ketika fasilitas sudah disiapkan dan ruang usaha sudah dibuka, maka penundaan hanya akan merugikan warga sendiri.

Pemerintah dan Perusahaan: Tanggung Jawab Berkelanjutan

Meski telah menyediakan infrastruktur, tugas pemerintah dan perusahaan belum selesai. Pendekatan persuasif harus terus dilakukan. Relokasi tak bisa dibangun di atas tekanan semata, tapi perlu diselimuti kepercayaan. Maka dari itu, transparansi dan pendampingan pasca-pindah harus dijamin. Jangan biarkan warga merasa “dibuang” ke tempat baru tanpa arah.

Demikian pula dengan perusahaan tambang. Pembangunan fisik harus dibarengi pembangunan manusia. Program pelatihan, penguatan ekonomi keluarga, dan edukasi kebersihan lingkungan harus menjadi komitmen jangka panjang.

Masyarakat : Saatnya Bangkit Bersama

Kini giliran masyarakat Kawasi mengambil peran. Kesempatan yang sudah di depan mata ini adalah momen langka. Jangan biarkan ruang-ruang usaha dan rumah-rumah sehat itu hanya diisi oleh pendatang. Ini adalah hak anak-anak Kawasi, dan tanggung jawab orang tua untuk memberinya.

Mengambil langkah pindah bukan berarti mengingkari masa lalu. Justru dengan itu, kita menghargainya. Kita merawat kenangan dengan cara memberi kehidupan yang lebih baik kepada generasi selanjutnya.

Penutup : Antara Pilihan dan Kesadaran

Ecovillage bukan sekadar proyek pembangunan, tapi ujian kesadaran sosial. Ia adalah simbol bahwa kemajuan hanya akan berarti jika kita bersama-sama mengambil bagian. Tidak cukup hanya membangun gedung—yang harus dibangun adalah harapan.

Desa Kawasi punya peluang menjadi model pembangunan berkelanjutan di Indonesia Timur. Tapi itu hanya bisa terjadi jika relokasi tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, melainkan sebagai lompatan menuju martabat yang lebih tinggi.

#IDMARSAOLY