FaduliNews_Halmahera Selatan —selasa/12/08/2025 Di ujung selatan Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan, sebuah seruan tulus mengalir dari hati seorang pendidik yang telah mengabdikan diri puluhan tahun untuk masa depan anak-anak bangsa. Dialah Samsudin, atau akrab disapa Ko Sam, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Halmahera Selatan, sekaligus salah satu sosok yang tanpa lelah memperjuangkan pendidikan vokasi di pelosok.
Dengan suara bergetar, Ko Sam mengajak masyarakat Halmahera Selatan, Maluku Utara, hingga seluruh Indonesia untuk memberi kesempatan lebih besar kepada SMK sebagai pilihan pendidikan masa depan anak-anak.
“Di Halsel, kami punya 25 SMK yang siap membimbing anak-anak kita. Dari Mekian Kayuwa, Gane Timur, Gane Barat, Obi, hingga Bacan Kota — semua punya satu misi: melahirkan generasi yang siap kerja, siap usaha, tapi juga siap kuliah kalau mau melanjutkan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, SMK bukan sekadar sekolah, tapi gerbang masa depan bagi anak-anak untuk memiliki keterampilan, karakter, dan kepercayaan diri menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Dengan slogan “SMK Bisa, SMK Hebat”, para guru dan kepala sekolah di Halsel bekerja keras meski fasilitas masih terbatas.
Ko Sam juga menyampaikan harapannya kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Pendidikan, dan Gubernur Maluku Utara sherly dan wakil Maluku Utara sarbin sehe, melalui dinas pendidikan Maluku Utara telah melakukan revitalisasi dan tranformasi pendidikan di 100 hari kerja yang terwujud untuk dukungan BOSDA agar pendidikan SMK gratis untuk semuanya lancar dan berkeadilan.
“Kalau program ini terwujud, saya yakin Maluku Utara akan jadi lumbung SDM unggul — anak-anak yang berilmu, beriman, bertakwa, dan punya keterampilan yang bisa menjawab tantangan zaman,” ujarnya penuh keyakinan.
Bagi Ko Sam, SMK adalah investasi masa depan. Anak-anak lulusan SMK tak hanya siap bekerja di dunia industri, tetapi juga bisa menjadi pengusaha, inovator, bahkan pencipta lapangan kerja baru. Mereka akan menjadi penyumbang besar bagi perekonomian nasional, bukan beban pembangunan.
Seruannya ditutup dengan pesan kebangsaan yang tegas:
“Merah Putih harga mati, Pancasila harga mati, NKRI harga mati. Muhammadiyah maju terus bersama NKRI menuju Indonesia yang berkemajuan.”
