FaduliNews |Maluku Utara. Di tengah gegap gempita menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-80, suara dari jalan-jalan desa yang rusak memanggil perhatian: dari Saketa dan Cango di Halmahera Selatan, hingga Desa Tengowango di Kecamatan Ibu Utara, Halmahera Barat. Di desa-desa ini, rakyat tak meminta pesta. Mereka hanya ingin negara hadir — lewat jalan yang layak, jembatan yang tersambung, dan hidup yang manusiawi.
Om Faduli,Pemuda asal Tidore , kembali menyuarakan aspirasi masyarakat kecil yang selama ini berjalan di atas bebatuan dan becek dan janji manis para pemangku kepentingan. ia berharap Gubernur Maluku Utara, Sherly Djuanda Laos, turun langsung ke desa-desa yang selama ini hanya jadi nama dalam laporan musiman
Di mana proyek milyar rupiah “Jalan Saketa–Cango rusak bertahun-tahun, jalan ke Gane Barat Utara belum juga tembus ke nuku Tidore tak kunjung rampung, dan di mana kabupaten Halmahera barat desa Tengowango seolah dihapus dari peta. Apa ini yang disebut pembangunan merata?” tanya Om Faduli.
Tengowango: Desa Warisan Sultan Babullah yang Kini Terasing
Desa Tengowango bukan sembarang tempat. Ia adalah tanah yang diberikan langsung oleh Sultan Babullah kepada suku Tabaru — simbol sejarah. Meskipun hanya dihuni sebanyak- 70 kepala keluarga (kk) Namun kini, desa ini seperti dilupakan. Rumah tak layak, air bersih langka, dan jaringan internet jadi barang mewah.
“Kami bukan hanya sejarah. Kami warga negara. Anak-anak kami sekolah, tapi sinyal tidak ada. Mau belajar apa tanpa internet di zaman digital?” keluh seorang warga Tengowango.
Saketa–Cango: Jalan Rusak di Jantung Mobilitas Halmahera Selatan lewat pelabuhan ferry semua mobil lintasan dari pesisir desa yang berada di kecamatan gane barat, gane Barat Utara, gane timur bahkan ada yang lintasan Weda,ke darata oba sofifi lewat pelabuhan ferry saketa kabupaten Halmahera Selatan,namun jalan penghubung Saketa–Cango hingga kini luput dari perhatian. Jalan ini vital bagi mobilitas warga, distribusi hasil bumi, hingga akses pendidikan dan kesehatan. Namun hingga kini, sebagian besar ruasnya masih rusak parah, miris jika hujan anak sekolah harus melepas sepatu untuk berjalan kaki ke sekolah.
“Kalau hujan, kami terisolasi. Kalau sakit, harus berjuang dulu di jalan sebelum sampai ke puskesmas,” ujar warga Cango.
Om Faduli: Saatnya Sherly Dengar Suara dari Desa
Om Faduli menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat kota atau desa-desa strategis. Ia berharap Gubernur Sherly Djuanda tidak hanya fokus pada proyek besar, tapi juga turun menyentuh wilayah yang selama ini hanya jadi objek foto kampanye.
“Kami bukan minta lebih, hanya minta setara. Kami juga warga Maluku Utara. Tolong dengar suara kami dari desa,” pintanya.
Pesan Hari Kemerdekaan: Posting, Tag, Jangan Diam!
Di momen Hari Kemerdekaan, Om Faduli mengajak generasi muda di seluruh Maluku Utara untuk tidak apatis. Ia mendorong pemuda di desa-desa untuk aktif memantau dan menyuarakan kondisi infrastruktur.
“Kalau jalan rusak, posting! Kalau jembatan putus, foto dan tag! Kita bukan lawan pemerintah, kita bantu membuka mata,” tegasnya.
Catatan Redaksi:Dari Halmahera Selatan ke Halmahera Barat, masalahnya sama: rakyat ingin negara hadir. FaduliNews mengajak semua warga untuk bersuara, sebab pembangunan adalah hak, bukan hadiah. Jika Anda melihat ketimpangan, dokumentasikan. Suarakan. Mari bangun Maluku Utara dengan mata terbuka dan hati berpihak.(Tim/Red)
