TIDORE – F1. Sebagai tokoh bangsa yang sangat dikagumi warga Nahdliyin, Presiden ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki tempat istimewa dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Kepergiannya pada 30 Desember 2009 selalu diperingati melalui tradisi haul oleh generasi muda NU di seluruh Indonesia.
Tahun 2025 menandai Haul Gus Dur ke-16, dan untuk memperingatinya, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kota Tidore Kepulauan bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tidore menggelar Tadarus Pikiran dalam bentuk dialog interaktif bertema “Memahami Nalar Gusdur, Manifestasi Gagasan Lintas Generasi”.
Kegiatan ini berlangsung di Desa Garojou, Kecamatan Oba Utara, pada Rabu (31/12/25), dengan menghadirkan tokoh lintas sektor dan lintas agama, di antaranya Sekretaris IKA-PMII Tidore Ruslan Muhammad, Komisioner KPU Tidore Abdulharis Doa, intelektual muda Nahdliyin Baharudin A. Pitajali, Ketua GP Ansor Tidore Jafar Noh Idrus, serta Pdt. Abner Bermula dari GKPMI Diakonia Gosale.
Ruslan Muhammad: Gus Dur, Investasi Abadi bagi Demokrasi dan Toleransi
Sekretaris IKA-PMII Tidore Ruslan Muhammad menyampaikan bahwa Gus Dur telah mewariskan “investasi abadi” berupa gagasan, terobosan, dan perjuangan yang terus hidup dalam bangsa ini.
“Amal jariyah Gus Dur itu nyata. Pemikirannya memayungi berbagai agama, tradisi, budaya, dan aspirasi masyarakat dari beragam keyakinan,” ujarnya.
Menurut Ruslan, Gus Dur adalah arsitek kehidupan masyarakat yang demokratis, terbuka, dan berakar kuat pada nilai keagamaan serta tradisi lokal. Karena itu, Haul Gus Dur menjadi ruang refleksi penting tentang cara merawat persatuan dan kebhinekaan lintas generasi.
Ia juga mengingatkan bahwa Gus Dur telah melahirkan banyak pemimpin besar, seperti Alwi Shihab, Mahfud MD, AS Hikam, hingga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Namun, Gus Dur tetap tegas dalam hal keutuhan NKRI.
“Dalam tradisi NU, separatisme hanya diizinkan dalam pikiran, bukan dalam tindakan,” tegasnya.
Baharudin Pitajali: Gus Dur Mengajarkan Persaudaraan Tanpa Batas
Intelektual muda Nahdliyin Baharudin A. Pitajali menegaskan bahwa Gus Dur selalu memandang manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tanpa mengenal batas suku, agama, dan golongan. Sikap cinta kasih itu juga ditunjukkan lewat pembelaannya pada kelompok minoritas, termasuk masyarakat Tionghoa.
Menurut Bahar, Haul Gus Dur di Tidore menjadi ajang mempererat silaturahim lintas iman yang sama-sama mencintai sosok Gus Dur sebagai simbol persatuan.
“Gusdur mengajarkan persaudaraan tanpa pandang bulu, baik seagama, sebangsa, maupun setanah air. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga dan jalankan dalam melayani masyarakat,” kata Bahar.
Ia berharap kegiatan ini semakin meneguhkan sikap NU dan seluruh badan otonomnya untuk tetap berpihak pada nilai kebangsaan dan kemaslahatan umat.
(Tim/Red)
