Puzzle Perdamaian di Rimba Pala Patani

Spread the love

Oleh: Abdurrahim Saraha

#Tanah Merdeka Institut

Jika dari Weda dengan arahan sahabat Arman Alting yang kini Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Halmahera Tengah menuju Patani, maka letaknya adalah Sibenpopo–Banemo. Sebaliknya kalau dari Patani yang ditemani Lukman Esa (LUKS), laki-laki akal sehat Ketua Komisi III DPRD Halmahera Tengah menuju Weda, maka posisinya adalah Banemo–Sibenpopo.

Tetapi Bilifitu nampaknya terus terngiang jika mengingat Patani. Puluhan tahun silam bertemu, bercengkrama, bahkan beberapa keluarga Patani khususnya Bilifitu pernah datang dan bersama di sini, di Dowora, Tidore. Itu sudah lama, lain waktu saya runut jejaknya kenapa Bilifitu itu pantas dikenang.

Satu hal yang bikin perjalanan itu belum tergambar detail nuansa keindahan alam, kampung-kampung yang dilewati, laut maupun perbukitan sampai makanan termasuk gatang kanari, adalah karena saya belum pernah lakukan perjalanan itu: dari Weda menuju Patani ataupun Patani ke Weda. Lain kali kita jelajahi rutenya untuk “Baronda Halteng”.

Dahulu, kita mengenal Chaidir Djafar, tokoh hebat dari Banemo, terkenal di Papua lantas menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan (Dapil) Maluku Utara. Hari ini kita sebut lagi satu nama yang kalau di atas podium dia adalah singa yang mengaum, menggetarkan hati, dialah Ahlan Djumadil.

Ahlan Djumadil (Adil) itu orang yang telah lama makan asam garam dunia aktivis sehingga saat didaulat mendampingi Ikram Malan Sangaji (IMS) dengan singkatan IMS–Adil, duet ini lalui berbagai badai gelombang politik pemilihan kepala daerah dan terpilih memimpin Halmahera Tengah periode 2025–2030.

Peristiwa berulang yang tak tuntas

2 April 2026 seorang warga Banemo meninggal dunia (dengan tubuh tersayat). Kematian warga Banemo ini menambah panjang peristiwa serupa, meninggalnya warga saat pergi ke lahan pertaniannya.

Di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur sejak tahun 2004 sampai kini, sekitar 10 kasus pembunuhan serupa terjadi. Hanya satu di Halmahera Timur yang berhasil dituntaskan oleh aparat Kepolisian Resort Halmahera Timur yang pelakunya dijebloskan 14 tahun penjara. Selain itu, 9 kasus selalu berakhir tanpa hasil. Aparat keamanan menyebut para pelaku itu sebagai OTK alias Orang Tak Dikenal.

Ini peristiwa yang terulang kali dan seperti itulah hasil akhirnya, pelakunya tak tersentuh, tak ditemukan.

Sekitar 9 peristiwa brutal yang tak pernah dapat diselesaikan itu adalah amarah yang terpendam, tersimpan, terus terjaga dan terawat dengan air mata juga tatapan marah membara yang suatu waktu akan meledak.

Sebagai permisalannya hari itu, di Jumat yang penuh berkah oleh kalangan Muslim sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari) dan bertepatan dengan prosesi Jumat Agung oleh umat Nasrani, berubah jadi awan hitam penuh dengan duka, air mata, dan darah.

Dapatkah seseorang dan atau sebuah komunitas mampu bertahan, diam saja menerima kenyataan dan tak melawan ketika didera bertubi-tubi duka nestapa penderitaan dan kasus pembunuhan yang dialamatkan kepada komunitasnya datang silih berganti?

Adalah sunnatullah jika ada reaksi atas aksi-aksi itu, reaksi untuk menolak dipermainkan, reaksi menolak menerima jawaban pasrah bahwa pelakunya adalah OTK, reaksi untuk menolak segala nasihat himbauan basa-basi, reaksi untuk menentukan dan atau memastikan keamanan komunitas terjaga dan dijaga dengan baik.

Meski kita juga maklumi bahwa jalan hukum atas semua reaksi psikologis itu bisa saja berdampak menyakitkan bagi para pelaku, tetapi itulah solidaritas. Ia tumbuh bagai satu tubuh yang jika satu bagian terluka maka bagian tubuh lain akan juga merasakan sakit yang sepadan.

Darah dan air mata Jumat kemarin adalah pesan tegas kepada semua pihak untuk segera berbenah ketika menghadapi peristiwa serupa yang memakan korban jiwa, apalagi di tengah dinamika sosial kemasyarakatan yang terus berubah cepat di bawah gempuran invasi industri ekstraktif.

Ujian pertumbuhan ekonomi tinggi

Adakah motif ekonomi di balik dan atau memboncengi peristiwa musibah pembunuhan ini?

Beberapa diskusi kecil menyebut bahwa Hutan Patani yang merupakan rimba pala itu sering menjadi area perselisihan termasuk penguasaan tanah, tetapi ini juga harus dikaji lebih mendalam dan komprehensif.

Dalam skala luas motif ekonomi (oligarki), beredar bahwa beberapa daerah di Patani sekarang dikapling berbagai izin tambang maupun sawit. Sebab itulah beberapa kali reaksi sporadis kalangan pemuda mahasiswa menenteng spanduk dan megaphone menolak Rimba Pala Patani harus tumbang ditackle oleh tambang dan sawit.

Jika motif ekonomi (oligarki) terlibat maka sangat sederhana dan gamblang secara teoritis maupun faktual untuk kita dapat secara cepat dan tepat menunjuk pihak-pihak yang berdiri menjadi aktor maupun sutradara atas peristiwa itu, tetapi sekali lagi butuh telaahan mendalam.

Ayo Sekolah

Perselisihan biasa mudah sekali disulut dan berubah menjadi pertikaian brutal jika itu terjadi dalam situasi belum kuat dan mapannya tingkat pendidikan.

Pendidikan yang rendah memengaruhi tabiat, kepribadian, dan pola pikir. Buruk sangka, tertutup dengan hal-hal baru meski lebih positif, mengedepankan rasa curiga, gampang terhasut, sangat reaktif-provokatif terhadap sebuah masalah.

Dengan situasi begitu, gampang dimobilisir untuk kepentingan personal dan atau komunitas yang semu, apalagi untuk tunggangan kepentingan politik praktis.

Saat ini terlihat Pemerintah Halmahera Tengah gencar menggenjot tumbuh kembang mekar akal sehat, salah satunya adalah kerja sama dengan perguruan tinggi untuk kuliah gratis bagi mahasiswa yang berasal dari Halmahera Tengah.

Kepolisian keras dan tegas

Kisah sukses aparat Kepolisian Resort Halmahera Timur dalam ungkap-tangkap pelaku kasus Waci yang kemudian divonis 14 tahun penjara memberi harapan dilakukannya usut tuntas kasus Banemo.

Kini teknologi semakin maju, kecakapan aparat kepolisian semakin mumpuni, salah satu aspek penting memberi dan menumbuhkan rasa saling percaya secara hakiki di antara sesama anak negeri Gamrange adalah aparat Kepolisian untuk segera proaktif mencari, menemukan, dan memproses pelaku pembunuhan itu secara wajar dan pantas.

Hampir tidak ada alasan yang paling masuk akal untuk mengatakan bahwa aparat Kepolisian sulit untuk menuntaskan kasus ini.

Dalam kasus Sambo adalah ketika secara keras dan tegas Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memerintahkan, “Lakukan penyelidikan segera dengan menggunakan metode scientific crime investigation.” Tak butuh waktu lama kasus Sambo dapat dituntaskan.

Pesan tegas Kapolri ini pantas untuk disuarakan publik dalam rangka melengkapi rangkaian puzzle kemanusiaan (aman dan damai) yang kini telah perlahan tapi pasti disusun kembali.

Aparat keamanan TNI–Polri dan Pemerintah telah tak henti terus memediasi, sampai kini bisa memberi rasa aman, saling jabat tangan, merendahkan ego, mendinginkan kepala, dan menyamankan hati.

Spirit Fagogoru Negeri Gamrange

Falsafah fagogoru; Ngoku re rasai, Budi re bahasa, Sopan re hormat, Attot re meimoi yang telah 800 tahun lebih mekar sebelum Indonesia lahir, dirawat dan dijaga secara seksama oleh para datuk moyang leluhur Negeri Gamrange.

Fakta ditemukan ketika musibah kemanusiaan bernuansa SARA tahun 1999–2000. Banemo yang Muslim dan Sibenpopo yang Nasrani tetap tegak berdiri kokoh tak oleng diterpa hasutan dan provokasi.

Kedua desa dengan dua agama mayoritas, dengan suku berbeda malah bahu-membahu memberi dan menjaga ketenteraman, ketenangan, kenyamanan, kedamaian, sementara beberapa daerah lain di Maluku Utara saat itu tercabik-koyak amarah membabi buta.

Ini memberi garansi dan apresiasi bahwa spirit Fagogoru di Negeri Gamrange itu telah teruji dan pantas dipuji karena dapat dengan kokoh menjadi benteng kemanusiaan dan perdamaian yang mampu menghalau setiap provokasi bernuansa SARA.

Kini infrastruktur rumah tinggal maupun publik lainnya yang terdampak musibah terus digenjot oleh Pemerintah Halmahera Tengah.

Jika sudah begitu responsifnya bupati, aparat keamanan, dan seluruh stakeholder Halmahera Tengah mengambil tugas dan tanggung jawab kepemimpinan kemanusiaan dalam peristiwa ini, maka apa pentingnya lagi bising-bisik soal air mata.

Meski air mata yang perlahan merembes turun membasahi wajah siapa saja termasuk para pemimpin adalah reaksi alamiah setelah tubuh dan pikiran bergegas, bergerak, bergumul, dan berjibaku ke sana kemari mengusap air mata dan membalut duka rakyatnya sendiri.

Para pemimpin di level manapun senantiasa memberi respons dan atau pernyataan publik berdasar akal sehat, tenang, rasional, tidak cengeng sentimental-emosional.

Saat ini ada satu puzzle perdamaian yang hendak disusun kembali, dengan menunggu aparat Kepolisian di bawah komando Polda Maluku Utara untuk secara presisi menemukan pelaku pembunuhan 2 April di Rimba Pala Patani maupun beberapa kasus sebelumnya.

Di laut Patani yang biru tenang jernih, teruslah bersuka cita. April ini musimnya Sib Mimnyen, waktunya panen laor sambil menatap hijaunya pegunungan yang kokoh.

Bersenandunglah sepenuh hati merdeka, biarkan Rimba Pala Patani itu terus mekar menebar cahaya kehidupan nan tak kunjung padam tanpa tambang dan sawit.