HALMAHERA TENGAH, FADULI1.COM – Ratusan warga dari Desa Lelilef Sawai dan Lelilef Waibulen menggelar aksi besar-besaran di kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Senin (30/3/2026), guna menagih sejumlah janji perusahaan yang hingga kini dinilai belum ditepati.
Massa yang terdiri dari pemuda, ibu-ibu, mahasiswa dan mahasiswi mulai bergerak sekitar pukul 10.00 WIT. Mereka datang membawa tuntutan atas berbagai persoalan mendasar yang selama ini dikeluhkan masyarakat di wilayah ring satu perusahaan.
Dalam orasinya, salah satu massa aksi menegaskan agar PT IWIP tidak lagi hanya menyampaikan janji dan pencitraan di ruang publik, sementara kebutuhan dasar warga sekitar tambang masih belum terjawab.
“Jangan terlalu banyak bicara manis di media sosial terkait program PT IWIP, tapi fakta di lapangan nihil. Stop bantuan ke daerah lain, sementara desa ring satu lima poin janji saja tidak mampu ditepati,” tegas salah satu orator dari atas mobil komando.
Situasi mulai memanas saat massa yang melakukan long march menuju area perusahaan dicegat aparat gabungan di jalur lingkar tambang. Warga meminta aparat keamanan tetap netral dan tidak berpihak kepada perusahaan.
Untuk mengamankan jalannya aksi, aparat gabungan diterjunkan dalam jumlah besar, terdiri dari 102 personel Polres Halmahera Tengah, 65 personel Brimob, 25 anggota TNI, sekitar 40 security internal, 68 personel Pam Obvit, serta 60 anggota security PHH, dengan total sekitar 360 personel pengamanan.
Meski sempat diwarnai ketegangan, Kapolres Halmahera Tengah bersama Dandim turun langsung di mana waktu pukul 13:35 Wit,Kapolres dan Dandim memfasilitasi dialog antara perwakilan masyarakat dan pihak manajemen PT IWIP.
Dalam pertemuan tersebut, warga kembali menegaskan enam poin tuntutan utama, yakni persoalan air bersih yang belum terealisasi, kerusakan atap rumah akibat debu perusahaan, hilangnya pendapatan usaha kos-kosan warga akibat pembangunan mess perusahaan, transparansi program PPM, penyediaan mobil water untuk penyiraman jalan, serta kepastian tindak lanjut seluruh janji perusahaan kepada desa ring satu.
Poin yang paling keras disorot warga adalah janji penyediaan air bersih yang menurut mereka sudah berulang kali disampaikan perusahaan, namun hingga kini belum dirasakan secara nyata dan merata oleh masyarakat.
Warga menilai persoalan ini bukan lagi soal rencana, melainkan soal komitmen perusahaan terhadap janji yang sudah disampaikan langsung kepada masyarakat.
Suasana rapat sempat memanas ketika warga meminta kepastian waktu penyelesaian. Ketegangan meningkat saat perwakilan perusahaan dinilai belum memberikan jawaban yang jelas, sehingga memicu luapan emosi dalam ruang pertemuan.
Perwakilan perusahaan akhirnya meminta waktu tambahan untuk menuntaskan tuntutan tersebut, terutama soal distribusi air bersih. Namun warga dengan tegas menolak janji tanpa tenggat.
“Kami kasih waktu dua hari. Kalau tidak selesai, masyarakat akan kembali turun dengan aksi yang lebih besar dari hari ini,” tegas salah satu perwakilan warga.
Sikap tegas warga ini menjadi peringatan serius bahwa masyarakat ring satu tidak lagi ingin mendengar janji berulang, melainkan menuntut bukti nyata dan penyelesaian cepat atas komitmen perusahaan yang belum dipenuhi.(*)
